Peneliti: penerapan "sasi kelapa" turunkan kualitas hasil panen

id kelapa

Peneliti: penerapan "sasi kelapa" turunkan kualitas hasil panen

Ilustrasi kebun kelapa (Fotomesin-pengolahan-kelapa.blogspot.com)

Yogyakarta (Antaranews Jogja) - Penerapan kearifan lokal "sasi kelapa" di Kabupaten Buru Selatan, Maluku, menurunkan kualitas hasil panen kelapa, kata peneliti Universitas Pattimura Evelin Tumuhuri.

"Penerapan `sasi kelapa` selama enam bulan juga berdampak pada rendahnya kualitas kopra," kata Evelin saat memaparkan hasil penelitian disertasinya pada Program Studi Biologi Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) di Yogyakarta, Kamis.

Menurut dia, "sasi kelapa" merupakan larangan mengambil hasil kelapa dalam periode waktu tertentu yang banyak diterapkan di wilayah Maluku, termasuk di Buru Selatan.

"Sasi kelapa" merupakan strategi yang diterapkan masyarakat untuk mencegah pencurian buah kelapa dan mencegah pengambilan hasil kelapa sebelum masa panen. Lama penerapan sasi kelapa ada yang selama empat bulan, enam bulan, maupun sesuai dengan kebutuhan petani kelapa.

"Saat di-`sasi` selama enam bulan, kebun kelapa dibiarkan begitu saja dan ini merugikan petani," kata dosen Program Studi Biologi Universitas Pattimura itu.

Ia mengatakan hasil penelitian menunjukkan pemberlakuan sasi selama enam bulan menurunkan kualitas buah. Berat buah, berat endosperma, tebal endosperma dan volume air kelapa menurun setelah buah masak.

"Tak hanya itu, kopra yang dihasilkan memiliki kualitas rendah dan tidak memenuhi syarat mutu Standar Nasional Indonesia (SNI). `Sasi kelapa` selama enam bulan tidak arif secara biologi," katanya.

Menurut dia, sasi kelapa enam bulan tidak lagi relevan diterapkan dengan kondisi saat ini yang telah mengalami berbagai perubahan dalam aspek biologi dan lingkungan, sosial dan ekonomi.

Meskipun demikian, Evelin menegaskan bahwa "sasi kelapa" perlu tetap dipertahankan. Namun, waktu pemberlakukan "sasi kelapa" lebih dipersingkat.

Penerapan "sasi kelapa", kata dia, sebaiknya dilakukan dengan durasi dua bulan atau paling lama tiga bulan agar sesuai dengan pola reduksi kelapa dan umur kemasakan buah.

Untuk meningkatkan nilai jual kopra, menurut dia, perlu perbaikan dan pengembangan cara pembuatan kopra dengan teknologi tepat guna yang sesuai dengan kondisi lingkungan dan sosial masyarakat Buru Selatan.
Pewarta :
Editor: Hery Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar