Sebagian lahan di Bantul masih ditanami jagung

id Jagung

Sebagian lahan di Bantul masih ditanami jagung

Tanaman jagung (Foto ANTARA/Mamiek)

Bantul  (Antaramews Jogja) - Dinas Pertanian Pangan, Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, menyatakan sebagian lahan pertanian di daerah ini masih ditanami jagung karena menyesuaikan dengan ketersediaan air irigasi. 
   
 "Meski tidak hujan, tidak pengaruh, karena ini kan tanaman masih jagung, per hari ini kan yang di daerah tidak hujan itu masih ada tanaman jagung dan kedelai," kata Kepala Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan dan Perikanan Bantul Pulung Haryadi di Bantul, Minggu.
     
Pihaknya tidak menyebut daerah mana di Bantul yang masih terdapat tanaman jagung dan kedelai karena belum ada hujan, akan tetapi daerah itu sebagian berada di daerah hilir atau dataran tinggi yang ketersediaan air kurang melimpah. 
     
"Kemudian ada beberapa tanaman bawang merah, tapi yang bawang merah dan belum lama panen, jadi walau hujan sedikit airnya ada, air irigasi masih ada sampai ke (saluran irigasi) tersier masih ada," katanya.
     
Pihaknya berharap dan mendorong petani jika ketersediaan air irigasi masih melimpah bisa melakukan tanam padi setelah panen sebelumnya, sementara petani yang lain bisa menyesuaikan dengan kondisi ketersediaan air irigasi.
     
Sementara itu, terkait dengan lahan tanaman jagung pada 2018, mengalami peningkatan luas dibanding 2017,termasuk tanaman kkedelai yang dalam satu tahun itu sekitar 2.000 hektare tersebar di beberapa kecamatan.
     
"Yang ada penambahan (lahan tanaman) itu kedelai sama jagung, namun saya lupa angkanya, tetapi kalau satu persen (tambahan) ada. Tentu ini berdampak pada peningkatan produksi jagung dan kedelai," katanya.
     
Sedangkan terkait produksi padi, kata dia, tiap tahun cenderung stagnan sekitar 188 ribu ton gabah, penyebab produksi padi stagnan diantaranya luas lahan yang tidak bertambah, selain itu faktor cuaca yang pada 2018 cenderung musim kemarau panjang. 
   
 "Kemudian kemarin itu hujan mundur satu bulan, makanya untuk padi tidak bisa 'ngejar', jadi ajeg saja, sehingga yang paling mungkin dengan mengoptimalkan menanam jagung dan kedelai," katanya.
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar