Yogyakarta sosialisasikan keunggulan bibit pisang kultur jaringan

id Kultur jaringan, pisang

Teknik kultur jaringan untuk menghasilkan bibit pisang di Kebun Plasma Nutfah Pisang Yogyakarta (Eka Arifa Rusqiyati)

Yogyakarta (Antaranews Jogja) - Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta terus menggencarkan sosialisasi keunggulan bibit pisang dari kultur jaringan yang dipastikan memiliki kualitas sama dengan bibit pisang dari tunas.“

"Jumlah peminat bibit pisang dari tunas masih lebih banyak dibanding peminat bibit pisang yang berasal dari kultur jaringan. Banyak masyarakat yang masih meyakini untuk memperoleh hasil pisang yang baik harus menanam dari tunasnya,” kata Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta Sugeng Darmanto di Yogyakarta, Senin.

Menurut dia, penjualan bibit pisang dari tunas di Kebun Plasma Nutfah Pisang yang dikelola Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta rata-rata mencapai 50 bibit per hari, jauh lebih banyak dibanding penjualan bibit pisang dari kultur jaringan yaitu 20 bibit per hari. Harga untuk kedua jenis bibit pisang tersebut sama yaitu Rp8.000 untuk bibit dengan tinggi sekitar satu meter.“

"Tentunya, kami perlu terus melakukan sosialisasi dan meyakinkan masyarakat bahwa bibit pisang yang berasal dari kultur jaringan memiliki kualitas sama dengan bibit dari tunas. Bahkan, memiliki lebih banyak keunggulan,” kata Sugeng.

Keunggulan bibit yang diperoleh dari hasil kultur jaringan adalah lebih tahan hama karena proses penumbuhan bibit dilakukan secara steril di ruangan yang bebas hama.

“Jumlah bibit yang dihasilkan melalui teknik kultur jaringan juga jauh lebih banyak, bisa mencapai ratusan bahkan ribuan. Jika mengandalkan tunas, maka setiap pohon biasanya hanya memiliki beberapa tunas saja,” katanya.

Pada tahun lalu, laboratorium kultur jaringan Kebun Plasma Nutfah Pisang mampu memproduksi sekitar 1.200 bibit dan akan ditingkatkan menjadi 5.000 bibit bahkan jika memungkinkan hingga 10.000 bibit pisang pada tahun ini.

Sugeng mengatakan, teknik kultur jaringan tersebut memberikan keuntungan untuk memperbanyak bibit dari jenis pisang yang biasanya tidak menghasilkan banyak tunas seperti pisang Raja. “Memang, waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan bibit dari kultur jaringan cukup lama sekitar delapan bulan,” katanya.

Selain Raja, berbagai kultivar pisang yang dikembangkan dengan teknik kultur jaringan di antaranya adalah pisang Raja Bagus, Kepok, Ambon, Cavendis, dan Mas atau pisang yang cukup dikonsumsi oleh masyarakat.

 “Tetapi, kami juga melakukan teknik kultur jaringan untuk bibit pisang hias seperti Genderuwo, Byar, dan Badak,” kata Petugas Teknis Laboratorium Kultur Jaringan Ani Widiastuti.

Ani menyebut, keberhasilan untuk menumbuhkan bibit pisang dengan teknik kultur jaringan cukup tinggi mencapai sekitar 95 persen. “Setiap jaringan pisang yang berasal dari bonggol diupayakan bisa tumbuh. Petugas laboratorium memiliki kemampuan untuk menjaga kondisi lingkungan agar sesuai untuk tumbuh kembang jaringan,” katanya. 

Pewarta :
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar