Yogyakarta mulai tingkatkan kewaspadaan penularan demam berdarah

id Demam berdarah

Ilustrasi penyemprotan "fogging" cegah penyakit demam berdarah (antarafoto.com)

    Yogyakarta (Antaranews Jogja) - Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta mengajak masyarakat untuk meningkatkan kepaspadaan terhadap penularan demam berdarah yang berpotensi mengalami kenaikan selama puncak musim hujan.



    “Kami mulai melayangkan surat edaran ke seluruh puskesmas dan rumah sakit pemerintah untuk meminta seluruh pihak agar meningkatkan kewaspadaan terhadap demam berdarah (DB),” kata Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta Endang Sri Rahayu di Yogyakarta, Senin.



    Hingga hari ini, di Kota Yogyakarta tercatat sebanyak 14 kasus DB. Jika dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, jumlah kasus tersebut mengalami kenaikan hingga 100 persen. Pada tahun lalu, jumlah kasus DB per Januari tercatat tujuh kasus.



    Menurut Endang, grafik kasus demam berdarah di Kota Yogyakarta cenderung sama dari tahun ke tahun yaitu mengalami kenaikan mulai Desember, Januari dan terus mengalami kenaikan hingga mencapai puncaknya pada Mei.



    “Kondisi tersebut terjadi pada tahun lalu. Setelah mengalami puncak kasus pada Mei, jumlah kasus DB kemudian perlahan-lahan turun dan baru mengalami kenaikan lagi mulai Desember. Irama grafiknya memang seperti itu,” katanya.



    Ia menyebut peningkatan kasus DB di Kota Yogyakarta erat kaitannya dengan musim hujan yaitu terjadi peningkatan kasus saat musim hujan dan kasus akan berkurang saat memasuki musim kemarau.



    Sementara itu, melalui surat edaran tersebut, puskesmas dan rumah sakit pemerintah diimbau untuk meningkatkan gerakan pemberantasan sarang nyamuk dengan cara menguras, menutup, dan memanfaatkan kembali barang bekas serta memanjat dan membersihkan talang atau saluran air di atas rumah atau disebut Gerakan 4M plus.



    Endang mengatakan, talang atau saluran air di atas rumah merupakan lokasi yang kerap dilupakan masyarakat karena lokasinya tidak terlihat dan tidak mudah terjangkau. Jika talang tersebut tidak dibersihkan, maka dikhawatirkan terdapat sisa air hujan yang menggenang dan bisa digunakan untuk tempat perkembangbiakan nyamuk aedes aegypti.



    Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta juga mengingatkan agar setiap rumah melakukan pemantauan jentik di lokasi penampungan air. “Satu rumah satu juru pemantau jentik (jumantik) yang melakukan pemantauan secara berkala dan jangan pernah bosan melakukan pemberantasan sarang nyamuk,” katanya.



    Sejumlah tempat umum, seperti sekolah, perkantoran, tempat ibadah, dan tempat usaha atau pemilik lahan kosong untuk terus melakukan pemberantasan sarang nyampuk satu pekan sekali. “Bisa juga dengan memelihara ikan di tempat penampungan air atau menggunakan abate,” katanya. 



 

Pewarta :
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar