Asita optimistis "Jogja Heboh" dongkrak kunjungan wisatawan

id wisatawan

Asita optimistis "Jogja Heboh" dongkrak kunjungan wisatawan

Sejumlah wisatawan menggunakan pelampung menyusuri Gua Pindul di Desa Bejiharjo, Karangmojo, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. (Foto Antara)

Yogyakarta (Antaranews Jogja) - Association of Indonesian Tours and Travel Agencies DIY meyakini jika gelaran Jogja Heboh sepanjang Februari mampu mendongkrak kunjungan wisatawan yang biasanya mengalami penurunan pada awal tahun. 



“Kegiatan ini memang sudah digelar untuk tahun ketiga. Dan pada penyelenggaraan kali ini, kami merasa jika penyelenggaraan kegiatan lebih gereget dibanding sebelum-sebelumnya. Oleh karena itu, kami optimistis bahwa kegiatan ini bisa mendongkrak kunjungan wisatawan sepanjang Februari,” kata Ketua Association of Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) DIY Udhi Sudiyanto di Yogyakarta, Jumat.



Menurut Udhi, jumlah kunjungan wisatawan pada awal tahun khususnya Januari dan Februari biasanya mengalami penurunan jika dibanding 10 bulan lainnya, baik kunjungan wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara.



Udhi pun menggambarkan bahwa pada 2014-2016, rata-rata kunjungan wisatawan mancanegara pada Februari di DIY hanya mencapai 18.978 orang atau jauh lebih sedikit dibanding bulan lain dengan rata-rata kunjungan lebih dari 20.000 wisatawan mancanegara. Puncak kunjungan wisatawan mancanegara terjadi pada Agustus dengan lebih dari 35.000 orang.



“Untuk kunjungan wisatawan domestik juga hampir sama, mengalami penurunan pada Februari dan biasanya kembali naik pada saat libur sekolah maupun saat akhir tahun,” katanya.



Oleh karena itu, Asita sebagai salah penyelenggara Jogja Heboh selain Kadin DIY dan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) berharap, kegiatan tersebut mampu mendatangkan banyak wisatawan saat “low season”.



“Tidak hanya untuk wisatawan domestik tetapi di masa yang akan datang, Jogja Heboh juga mampu meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara,” katanya.



Beberapa kegiatan yang akan digelar selama Jogja Heboh, lanjut Udhi, tidak hanya difokuskan untuk wisata “leisure” tetapi juga disesuaikan dengan minat masyarakat seperti di bidang kuliner, seni, budaya, hingga olahraga. “Ada sekitar 30 kegiatan yang siap memeriahkan Jogja Heboh,” katanya.



Kegiatan yang akan diselenggaran di antaranya, Pejazztrian yaitu pertunjukan musik jazz di area publik, atau kegiatan sport tourisme berupa color run hingga kegiatan kuliner Jogja Halal Food Expo serta pesta diskon yang diyakini mampu menarik wisatawan untuk datang ke Yogyakarta karena ada potongan harga menarik yang ditawarkan baik untuk kuliner, fashion maupun akomodasi.



“Kami akan terus sosialisasikan Jogja Heboh ini melalui teman-teman biro perjalanan wisata. Meskipun demikian, wisatawan yang mungkin datang ke Yogyakarta untuk menikmati berbagai ‘event’ menarik adalah wisatawan perjalanan pribadi atau keluarga yang sifatnya insidentil, bukan rombongan melalui biro perjalanan wisata,” katanya.



Sementara itu, Kepala Bidang Pengembangan dan Pemasaran Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta Golkari Made Yulianto mengatakan, dukungan terhadap kegiatan Jogja Heboh lebih banyak dilakukan melalui kampung-kampung wisata dan wilayah.



Salah satunya adalah Festival Kelurahan Tahunan 1.000 Angkringan dan Jumputan on the Street sebagai salah satu kegiatan seni dan budaya. Dalam kegiatan tersebut akan diisi dengan pentas kesenian dan karnaval budaya yang dipusatkan di Jalan Batikan pada 9-10 Februari.



Selain itu, juga digelar Prawirotaman Festival sebagai ajang silaturahmi seniman Yogyakarta dengan pertunjukan musik tradisional, musik modern, seni tari dan seni rupa serta tidak lupa fashion show, dan bazaar kuliner. Kegiatan dipusatkan di Kampung Mangkuyudan, Tirtodipuran dan Prawirotaman.



“Tentunya, kami berharap ada peningkatan jumlah kunjungan wisata karena rata-rata kunjungan wisawatan mengalami penurunan pada Februari. Meski demikian, kami tidak menargetkan jumlah kenaikan kunjungannya,” katanya.


 

    

Pewarta :
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar