BNNP DIY tempatkan anjing pelacak di Bandara Adisutjipto

id anjing pelacak

ilustrasi- Petugas Badan Narkotika Nasional (BNN) menggunakan anjing pelacak K-9 untuk menemukan keberadaan narkotika saat simulasi di gedung fasilitas anjing pelacak narkotika (Unit Deteksi K-9) BNN, Lido, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. (ANTARA JABAR/Arif Firmansyah/agr/18) (.) (./)

Yogyakarta (Antaranews Jogja) - Badan Narkotika Nasional Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta akan menempatkan dua anjing pelacak di Bandar Udara Adisutjipto Yogyakarta untuk memperkuat upaya pencegahan penyelundupan narkoba melalui bandara itu.

"InsyaAllah dalam waktu satu bulan ini kami sudah mendapatkan dua anjing pelacak dari BNN Pusat dan akan kami tempatkan di Bandara Adisutjipto," kata Kepala Bidang Pemberantasan Narkoba Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) DIY AKBP Sudaryoko di Yogyakarta, Minggu.

Menurut Sudaryoko, untuk operasional dua anjing pelacak dari BNN RI itu nantinya akan  bekerja sama dengan Kantor Bea dan Cukai Wilayah Yogyakarta.

Untuk sementara, kata dia, kedua anjing pelacak itu akan menggunakan kandang yang ada di Kantor Bea dan Cukai Yogyakarta. "Senin (4/2) besok saya akan menghadap pihak Bea Cukai. Kami akan meminjam kandangnya dulu," kata dia.

Sudaryoko mengatakan keberadaan anjing pelacak diperlukan untuk memperketat pengawasan terhadap potensi penyelundupan narkoba di Bandara Adisutjipto. Pasalnya, Yogyakarta hingga kini masih banyak diincar penyelundup narkoba baik dari mancanegara maupun domestik yang masuk melalui jalur udara.

 "Dengan adanya anjing pelacak pengawasan akan bisa lebih ketat lagi. Sebab di Bandara Adisutjipto, baik penerbangan luar negeri maupun domestik sama-sama berpotensi ditumpangi pengedar dari mancanegara," kata dia.

Sebelumnya, pada Juli 2018, Bea Cukai DIY bersama BNNP DIY telah menggagalkan penyelundupan sabu-sabu seberat 1,1 kilogram oleh dua orang asal Thailand di Bandar Udara Adisutjipto Yogyakarta.

Sudaryoko upaya pengedar narkoba dari mancanegara ke Yogyakarta melalui Bandara Adisutjipto di antaranya merupakan siasat untuk mengecoh petugas melacak peredaran narkoba. Sebab, dalam kasus sabu-sabu dari Thailand itu, kurir yang hendak mengambil justru berasal dari Kabupaten Pandeglang, Banten.

"Mungkin di bandara sini (Adisutjipto) dianggap tidak seketat di Bandara Jakarta, sehingga dari Singapura lewat Batam dulu tidak langsung ke Jakarta tetapi lewat Yogyakarta dulu," kata dia.

 Menurut dia, pengawasan dan pemberantasan yang terus diperketat oleh aparat, menurut Sudaryoko, selalu diikuti dengan strategi atau modus-modus operandi baru yang diperbarui para pengedar untuk bisa memasukkan barang haram itu ke Yogyakarta.

Salah satu modus yang masih kerap digunakan untuk mengecoh dan menyulitkan petugas di Yogyakarta adalah sistem beli putus. Modus tersebut kebanyakan dilakukan penjual dan pembeli yang tidak saling mengenal dengan bertransaksi melalui telepon genggam. "Modus itu menyulitkan kami melacak pemasok yang lebih besar di atasnya karena saat kami tangkap baik penjual maupun pembelinya tidak saling mengenal," kata dia.
Pewarta :
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar