Haedar: masyarakat jangan mudah disulut untuk kepentingan tertentu

id haedar nashir

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir. (Foto Antara)

Yogyakarta (Antaranews Jogja) - Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir mengimbau masyarakat Indonesia agar tidak mudah disulut kebencian dan kemarahannya untuk kepentingan kelompok tertentu. 
     
"Belakangan ini perhatian masyarakat Indonesia disibukkan oleh beragam isu politik. Banyak dari mereka yang terkotak-kotak berdasarkan kelompok yang mereka dukung, yang kemudian menimbulkan ketegangan yang tidak jarang menjadi konflik," katanya di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Yogyakarta, Senin.
     
Pada seminar Pra-Tanwir Muhammadiyah bertema "Beragama yang Mencerahkan Dalam Perspektif Politik Kebangsaan", Haedar mengatakan keadaan itu menjadi tanda bahwa masyarakat memerlukan pencerahan agar meraka dapat "melihat" dengan lebih baik.
     
"Sebagai sebuah agama, Islam hadir sebagai pencerahan yang dicerminkan melalui ayat pertama yang diturunkan dalam wahyu kepada Nabi Muhammad SAW, yakni iqra. Ayat itu turun ketika Nabi Muhammad SAW sedang risau terhadap kondisi masyarakat Arab saat itu," katanya.
     
Keadaan masyarakat Arab saat itu, menurut dia, dapat dideskripsikan dengan kata dzulumat yang diartikan sebagai kegelapan baik dalam kultural maupun struktural.
     
Ia menjelaskan, ayat iqra itu kemudian muncul sebagai tanwir, pencerah, yang memberikan cara untuk keluar dari kegelapan tersebut. Ayat itu memiliki inti untuk menegakkan ilmu dan akal pikiran.
     
"Dari pemaknaan itu kemudian memunculkan berbagai konsep seperti tafakkur dan tadabbur. Pemaknaan dan penerapan dari iqra tersebut yang kemudian saya rasa sangat berkurang di masyarakat kita saat ini," kata Haedar.
     
Ia mengatakan, sekarang ayat-ayat seringkali hanya dikutip untuk kepentingan tertentu atau bahkan digunakan untuk menyulut kemarahan, kebencian, dan pertikaian. Bukan hanya pada isu sosial politik, tetapi juga pada aspek kehidupan sebagai orang beragama.
     
"Kondisi itu menyebabkan kita menjadi intoleran terhadap perbedaan. Padahal, ketika Islam dimaknai secara kontemplatif, agama ini menuntun kita untuk menjadi pribadi yang berpikir, dan ini yang ingin kita lakukan, mengembalikan Islam pada nilainya yang luhur dan fundamental," katanya.
 
Pewarta :
Editor: Hery Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar