Yogyakarta siapkan pendampingan pengolahan lele

id Lele,lele cendol

Yogyakarta siapkan pendampingan pengolahan lele

Ilustrasi budi daya lele cendol oleh warga di Tompeyan Yogyakarta (Foto Antara/Eka Arifa Rusqiyati)

Yogyakarta (Antaramews Jogja) - Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta mulai menyiapkan berbagai kegiatan pendampingan pengolahan lele yang dibudidayakan warga melalui program lele cendol sebagai antisipasi jika produksi lele melimpah.



 “Ada potensi peningkatan jumlah produksi lele yang cukup signifikan jika program lele cendol ini berjalan di seluruh wilayah. Kami khawatir, produksi lele tidak bisa terserap semuanya di pasar sehingga perlu upaya lain agar budi daya lele cendol ini tetap memberikan nilai tambah ke masyarakat,” kata Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta Sugeng Darmanto di Yogyakarta, Selasa.



Pemerintah Kota Yogyakarta terus mendorong setiap rukun tetangga (RT) untuk mulai membudidayakan lele melalui program lele cendol sebagai bagian dari kegiatan Gandeng-Gendong. Setidaknya satu RT memiliki satu bak untuk budi daya lele. 



Program budi daya lele cendol tersebut sudah diawali oleh warga Tompeyan Yogyakarta. Warga tidak membutuhkan lahan luas untuk budi daya lele tetapi cukup membutuhkan buis beton atau beton berbentuk silinder yang biasanya digunakan untuk gorong-gorong sebagai tempat budi daya.



Satu bak bisa diisi sekitar 100 ekor bibit lele dengan tingkat kematian sekitar tiga persen. Jika di Kota Yogyakarta terdapat sekitar 2.500 rukun tetangga, maka akan ada lebih dari 200.000 ekor lele yang dipanen setiap dua bulan sekali.



“Kami berharap, masyarakat tidak hanya menjual lele dalam kondisi mentah saja tetapi diolah terlebih dulu sehingga memberikan nilai tambah. Kami akan lakukan pendampingan untuk pengolahan lele ini,” katanya.



Selain dibuat menjadi makanan seperti abon, lele juga bisa diolah dengan menambahkan bumbu dan konsumen tinggal memasaknya saja atau lele yang disimpan dalam kaleng.



“Selain kualitas rasa dan higienitas produk, yang tidak kalah penting adalah cara pengemasan sehingga produk menjadi awet dan menarik minat konsumen untuk membelinya,” katanya.



Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta juga akan berkoordinasi dengan pengelola Pasar Ikan Higienis agar bisa menyediakan satu ruangan khusus untuk penjualan produk ikan segar termasuk lele. “Standar kualitas lele juga harus dijaga,” katanya.



Sugeng juga mengusulkan agar produksi lele dari warga bisa diserap oleh pedagang kaki lima atau pedagang pecel lele di wilayah masing-masing. 



 Saat ini, kebutuhan lele di Kota Yogyakarta mencapai enam ton per hari dan biasanya dipasok dari berbagai daerah di Jawa Timur seperti Kediri.



 Sedangkan untuk produksi lele cendol yang sudah dibudidayakan warga Tompeyan, lanjut Sugeng, baru ditujukan untuk memenuhi kebutuhan warga dan bukan untuk tujuan ekonomi produktif.

Pewarta :
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar