Warga Yogyakarta diminta tingkatkan kewaspadaan DBD dan leptospirasis

id Demam berdarah, leptospirosis

Warga Yogyakarta diminta tingkatkan kewaspadaan DBD dan leptospirasis

Ilustrasi nyamuk penyebab demam berdarah (Foto antaranews.com)

Yogyakarta (ANTARA) - Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta mengimbau warga untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penularan demam berdarah dengue dan leptospirosis selama musim hujan dengan meningkatkan kebersihan lingkungan termasuk memperhatikan gejala penyakit sehingga bisa segera ditangani.



“Karena curah hujan masih cukup tinggi, maka potensi kedua jenis penyakit tersebut juga masih tinggi. Oleh karena itu, warga diminta tetap waspada dengan menjaga kebersihan lingkungan dan segera memeriksakan diri ke layanan kesehatan jika timbul gejala penyakit,” kata Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta Endang Sri Rahayu di Yogyakarta, Kamis.



Menurut dia, angka kasus DB hingga akhir Februari tahun ini mengalami kenaikan dibanding periode yang sama tahun lalu. Namun, kondisi serupa juga terjadi di beberapa daerah lain.



Hingga Kamis (28/2), tercatat sebanyak 97 kasus demam berdarah tanpa disertai kematian, dan lima kasus leptospirosis dengan satu kasus kematian. “Khusus untuk leptospirosis masih akan diselidiki untuk memastikan apakah pasien tersebut meninggal karena leptospirosis atau sebab lain,” kata Endang.



Selain pemberantasan sarang nyamuk untuk mencegah penularan DB, warga juga diminta untuk tetap menjalankan pola hidup bersih dan sehat dengan membersihkan lingkungan dari sampah atau tempat yang berpotensi menjadi sarang perkembangbiakan nyamuk.



Dan saat membersihkan lingkungan, warga diimbau untuk menjaga keselamatan diri dengan mengenakan alat pelindung diri seperti sarung tangan atau sepatu agar tidak mudah terpapar bakteri leptospira yang disebarkan oleh kencing atau darah hewan seperti tikus, anjing dan hewan ternak.



Leptospirosis dapat menyerang manusia melalui paparan air atau tanah yang terkontamisai urine hewan pembawa bakteri Leptospira.



Ia pun menegaskan, meningkatnya kasus DB di Kota Yogyakarta tidak dapat dimasukkan dalam kategori perulangan kasus lima tahunan. “Tidak ada yang namanya kasus lima tahunan. Kasus demam berdarah bisa merebak dengan angka cukup tinggi karena dipengaruhi beberapa faktor,” katanya.



Sejumlah gejala yang perlu segera diwaspadai masyarakat agar tidak terjangkit DB dan leptospirosis di antaranya adalah demam tinggi, nyeri otot, mual dan muntah.



Sedangkan untuk leptospirosis gejala yang muncul hampir sama yaitu demam tinggi namun biasanya disertai dengan mata merah, sakit kepala, diare, batuk, nyeri otot dan ruam kulit. 

Pewarta :
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar