Petambak udang Kulon Progo diminta beralih profesi

id tambak udang

ilustrasi tambak udang ((Foto Antara/Mamiek))

Kulon Progo (ANTARA) - Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengimbau kepada pemilik tambak udang di selatan proyek Bandara New Yogyakarta International Airport beralih profesi menjadi pelaku wisata atau nelayan sampai ada kepastian penambahan peruntukan kawasan budi daya air payau.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kulon Progo Sudarna di Kulon Progo, Minggu, mengatakan sejak awal Maret ini, kawasan selatan proyek Bandara NYIA sudah tidak bisa dimanfaatkan untuk kegiatan tambak udang, usaha wisata berupa penginapan karena akan dibangun sabuk hijau pengaman bandara dari ancaman gelombang dan tsunami.

"Kami sudah memberikan pemberitahuan kepada pemilik tambak udang supaya mengosongkan lahan mereka. Tetapi kalau mereka tetap melakukan aktivitas dengan menebar benih atau lainnya, mereka sudah tahu risiko yang mereka alami. Kami menyarankan mereka beralih profesi menjadi nelayan atau pelaku wisata yang juga bisa menjadi  pekerjaan yang  prospektif," kata Sudarna.

Ia mengatakan dari hasil monitoring DKP, sudah ada yang berhenti beroperasi pasca mendapat sosialisasi pengosongan lahan beberapa bulan lalu, ada beberapa lagi ada yang berhenti tapi alatnya masih di situ, ada juga yang masih beroperasi dan ada  yang baru mulai tabur benih serta mengisi air.

Bagi petambak yang masih beroperasi berdasarkan monitoring DKP mulai mengurangi jumlah benih udang yang ditabur, kalau sebelumnya 200.000 saat ini hanya berkisar 50.000. Ini agar petambak tidak rugi banyak.

"Kami berharap petambak secara mandiri dan kesadaran sendiri untuk tidak melakukan aktivitas menambak. Proyek NYIA merupakan proyek strategis nasional yang harus didukung semua pihak. Proyek," katanya.

Seperti diketahui, kawasan peruntukan budi daya air payau sesuai RTRW, yakniPasir mendit, Kadilangu dan Trisik. Namun demikian, banyak bermunculan tambak udang di sepanjang kawasan pantai di Kulon Progo. Di Kulon Progo memiliki potensi lahan perluasan peruntukan tambak udang di kawasan Pantai Trisik seluas 80 hektare.

Lahan tersebut bisa menjadi tempat relokasi petambak, akan tetapi luasannya tidak mencukupi. Sementara jika di kawasan pesisir Trisik ke barat, atau wilayah pertambangan pasir besir saat ini masih terganjal regulasi RTRW. 

Sudarna secara pribadi mengaku dilematis dengan penggusuran lahan tambak udang. Sebab meski melanggar aturan, tapi dengan adanya tambak, bisa meningkatkan perekonomian masyarakat.

"Kalau ada penambahan luasan, atau menambah kawasan budidaya air payau saya kira bisa aja, tapi ya itu tadi ngurusnya lama, karena ini berkaitan dengan RTRW yang diampu Pemerintah DIY, mungkin kalau DPRD Kulon Progo bisa mengusulkan hal itu ke Pemda DIY saya malah senang," katanya.

Anggota DPRD Kulon Progo Hamam Cahyadi mengharapkan Pemkab Kulon Progo serius menangani masalah petambak udang di sepanjang pantai selatan. Kalau budi daya udang ini sangat prospektif bagi perekonomian masyarakat, kenapa tidak memanfaatkan kawasan kontrak karya yang sudah tidak mampu menjalankan tugasnya.

"Kawasan kontrak karya pasir besi ini masih luas, tinggal menunggu keberanian pemkab dalam mengambil kebijakan," katanya.


 
Pewarta :
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar