Polresta: Yogyakarta masih menjadi pasar peredaran narkoba

id Narkoba

Kepala Kepolisian Resor Kota Yogyakarta Kombes Pol Armaini (dua dari kiri) bersama Kepala Bidang Pemberantsan Narkoba BNNP DIY Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Sudaryaka (tiga kiri) menjawab pertanyaan wartawan seusai acara pemusnahan barang bukti narkotika di Lapangan Panahan, Jalan Kenari, Yogyakarta, Selasa. (Foto Antara/Luqman Hakim)

Yogyakarta (ANTARA) - Kepala Kepolisian Resor Kota Yogyakarta Kombes Pol Armaini menyebutkan hingga saat ini Kota Yogakarta masih menjadi pasar peredaran narkotika dan obat-obatan terlarang yang berasal dari luar daerah.

"Yang dimaksud pasar narkoba di sini pemakainya banyak, konsumennya banyak," kata Armaini seusai acara pemusnahan barang bukti narkotika di Lapangan Panahan, Jalan Kenari, Yogyakarta, Selasa.

Menurut Armaini, penilaian Yogyakarta sebagai pasar peredaran narkoba didasarkan pada data dan fakta penindakan kasus peredaran narkoba di kota setempat yang masih tinggi. "Data tahunan pemakai narkoba di Yogyakarta semakin meningkat," kata dia.

Sementara itu, berdasarkan catatan Polresta Yogyakarta, menurut dia, peredaran narkoba rata-rata menyasar mahasiswa yang menuntut ilmu di Yogyakarta. Meski tidak seluruhnya mahasiswa, namun pengguna narkoba di Yogyakarta kebanyakan memang di rentang usia 20-35 tahun.

"Mahasiswa ini kan punya duit dia, ya kan. Tiap bulan kan dikirim uang. Tapi mohon maaf, saya itu jumlah persentasenya (tidak hafal), tapi enggak mungkin 50 persen mahasiswa," kata dia.

Ia menegaskan bahwa selama ini narkoba yang diedarkan berasal dari luar Daerah Istimewa Yogyakarta. Hingga saat ini, polisi tidak menemukan tempat memproduksi narkoba di wilayah Yogyakarta.

"Transaksi narkoba secara terbuk di tempat-tempat hiburan malam juga sudah menurun, beralih ke kos-kosan," kata dia.

Kepala Bidang Pemberantsan Narkoba BNNP DIY Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Sudaryaka menyebutkan Yogyakarta bukan hanya dibidik kelompok pengedar dari daerah lain di dalam negeri, malinkan juga luar negeri. "Yogyakarta memang jadi pangsa pasar yang konsumtif," kata dia.

Sudaryaka sebelumnya mengungkapkan bahwa salah satu modus yang masih kerap digunakan untuk mengecoh dan menyulitkan petugas di Yogyakarta, kata dia, adalah sistem beli putus. Modus tersebut kebanyakan dilakukan penjual dan pembeli yang tidak saling mengenal dengan bertransaksi melalui telepon genggam.

Menurut Sudaryaka, cara itu menyulitkan petugas untuk mengungkap pemasok yang lebih besar di atasnya karena saat ditangkap, penjual maupun pembelinya ternyata tidak saling mengenal.

Para pengedar, ungkap dia, saat ini memilih menunggu kurir di titik-titik perbatasan yang paling dekat dengan Yogyakarta, seperti Solo, Sukoharjo, Klaten, dan Delanggu. Narkoba yang diedarkan pun kebanyakn berupa paket bungkusan-bungkusan kecil dengan berat mulai 0,5 gram.***2***

Pewarta: Luqman Hakim
Pewarta :
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar