DLH Sleman : masyarakat mudah tertular membuang sampah sembarangan

id Sampah liar

Tumpukan sampah liar di tepi Selokan Mataram Dusun Sombomerten, Maguwoharjo, Depok, Sleman. (Foto Antara/Victorianus Sat Pranyoto (

Sleman (ANTARA) - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta menyebutkan kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah rumah tangga secara sembarangan masih belum baik dan kebiasaan tersebut mudah menular sehingga banyak terdapat tumpukan sampah liar.

"Awalnya hanya satu orang saja yang membuang sampah sembarangan, namun kemudian diikuti yang lainnya sehingga akhirnya menjadikan tumpukan sampah liar," kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sleman Dwi Anta Sudibya di sela perayaan Hari Peduli Sampah Nasional di Berbah, Sleman, Jumat.

Menurut dia, di wilayah Sleman pihaknya mendata ada sekitar 15 titik lokasi tumpukan sampah liar.

"Titik-titik tumpukan sampah liar tersebut mayoritas terdapat di sekitar kawasan perkotaan, seperti Kecamatan Depok, Mlati dan Gamping," katanya.

Ia mengatakan, pihaknya sebenarnya selama ini telah berulang kali membersihkan tumpukan sampah liar tersebut, namun kesadaran masyarakat akan kebersihan lingkungan masih rendah.

"Kalau sudah dibersihkan, kemudian ada yang membuang lagi di situ pasti selanjutnya menular dan akhirnya semakin banyak yang membuang sampah di situ lagi. Kondisi ini yang sebanarnya menjadi fokus kami," katanya.

Dwi mengatakan, untuk mengatasi masalah tumpukan sampah liar tersebut sebenarnya adalah perilaku masyarakatlah yang harus diubah.

"Kami telah menyiapkan skema. Pertama, dengan memberikan gerobak sampah untuk masyarakat," katanya.

Skema kedua, kata dia, jika masyarakat menghendaki, maka kami dengan senang hati akan membangunkan bank sampah.

"Dari bank sampah ini nanti sampah akan dipilah menjadi dua, satu yang bisa dijual atau diolah dan satu lagi residu yang nantinya dibuang ke Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan, Bantul," katanya.

Ia mengatakan, jika memang masyarakat masih merasa keberatan, maka yang paling mungkin adalah dengan TPS-3R (Reduce, Reuse, Recycle).

"Pengelolaan sampah model ini merupakan pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Saat ini kami telah memiliki 21 TPS-3R," katanya.

Koordinator Komunitas Garuk Sampah Bekti Maulana mengatakan di Sleman terutama di sekitar kawasan Selokan Mataram memang banyak sekali tumpukan sampah.

"Selain itu perlu dilakukan upaya pengangkatan sampah di sepanjang Selokan Mataram yang saat ini seakan menjadi tempat sampah umum," katanya. 

Menurut dia,  tumpukan sampah liar di Sleman tidak mungkin hanya ada di 15 titik. 

"Di sepanjang Selokan Mataram saja itu ada puluhan titik. Mungkin jumlahnya bisa mencapai ratusan," katanya.

Ia mengatakan, memang untuk menyadarkan masyarakat untuk merawat lingkungan masih sangat sulit. Bahkan segala macam cara seperti imbauan dan sanksi berupa denda seakan tidak mempan.

"Seperti di Dusun Sombomerten, Maguwoharjo. Meskipun sudah dipagar bambu dan dipasang peringatan berupa peraturan, lengkap dengan denda, nyatanya masih banyak sampah yang dibuang di sana. Mereka ini buangnya pada malam agar tidak ada yang tahu melihat," katanya..




 
Pewarta :
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar