
Sony akan menutup pabrik telepon pintarnya di China

Beijing (ANTARA) - Perusahaan Sony akan menutup pabrik telepon pintarnya di Beijing dalam beberapa hari ke depan karena raksasa elektronik Jepang tersebut berniat untuk mengurangi biaya produksi dalam bisnis yang merugi tersebut, kata juru bicara perusahaan tersebut seperti dikutip reuters, Kamis .
Sony akan mengalihkan produksi ke pabrik di Thailand untuk mengurangi setengah dari biaya produksi dan menjadikan bisnis telepon pintar itu menguntungkan bagi mereka mulai April 2020, kata juru bicara tersebu.
Keputusan tersebut tidak terkait dengan sengketa perdagangan antara China dengan Amerika Serikat.
Bisnis telepon pintar Sony merupakan salah satu titik lemah perusahaan tersebut dan bersiap untuk kehilangan 95 miliar yen (863 juta dolar AS) pada tahun keuangan yang berakhir Maret ini.
Beberapa analis mengatakan Sony seharusnya menjual bisnis tersebut di tengah persaingan harga yang akut dengan para pesaingnya dari Asia. Perusahaan tersebut hanya memiliki pangsa pasar global kurang dari satu persen, dengan hanya mengirimkan 6,5 juta unit selama tahun keuangan sekarang terutama untuk Jepang dan Eropa.
Namun Sony mengatakan, tidak berniat menjual perusahaan itu karena memperkirakan telepon pintar akan menjadi pusat teknologi untuk jaringan nirkabel generasi kelima, di mana mobil dan berbagai perangkat akan terhubung.
Di antara sejumlah perusahaan elektronik Jepang, Fujitsu Ltd tahun lalu menjual bisnis ponselnya kepada perusahaan dana investasi Polaris Capital Group.
Penjualan tersebut menyisakan tiga produsen telepon pintar dari Jepang , yaitu Sony, Sharp Corp, dan Kyocera Corp di pasar global yang di dominasi oleh Apple Inc, Samsung Electronics Co Ltd, dan saingan dari China.
Pada akhir tahun lalu Samsung mengatakan, akan menghentikan operasi salah satu pabrik ponselnya di China karena merosotnya penjualan di pasar telepon pintar terbesar di dunia tersebut.
(Panji Sulaksono/nusarina)
Pewarta : Panji Sulaksono/Nusarina
Editor:
Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2026
