18 kelompok pembudidaya perikanan di Bantul terdampak banjir

id Kolam ikan

Salah satu kolam ikan budi daya di Bantul (Foto Antara/Hery Sidik)

Bantul (ANTARA) - Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta mencatat sebanyak 18 kelompok pembudidaya perikanan terdampak bencana banjir karena cuaca ekstrim beberapa waktu lalu.

"Kalau untuk sektor perikanan itu ada 18 kelompok yang terkena dampak banjir, itu bukan kolamnya yang rusak, namun ikannya yang hilang (hanyut)," kata Kepala Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan dan Perikanan Bantul Pulung Haryadi di Bantul, Rabu.

Pada kejadian banjir akibat hujan deras selama seharian pada 17 Maret lalu menerjang hampir di semua 17 kecamatan se-Bantul, selain menggenangi rumah dan fasilitas umum di Bantul selatan, banjir juga menerjang kolam-kolam budi daya ikan.

Dia mengatakan, kelompok pembudidaya perikanan terdampak banjir yang diperparah dengan luapan sungai itu tersebar di beberapa kecamatan, misalnya di wilayah Kecamatan Sewon, Kretek wilayah Bantul selatan lainnya.

"Kelompok yang terdampak ini tersebar di empat kecamatan, kira-kira kalau ditaksir kerugiannya kurang lebih sebesar Rp250 jutaan, karena hanya ikan-ikan yang hilang," kata Pulung.

Meski demikian, dia mengatakan, akibat kejadian yang berdampak pada belasan kelompok pembudidaya perikanan itu tidak memengaruhi stok benih ikan di Bantul, sebab yang hanyut mayoritas ikan sudah umur dewasa.

"Perikanan tidak berdampak pada persediaan stok ikan, karena kalau benih ikan tidak ada yang kena, ini kan kelompok di perairan sekitar rumah tangga petani," katanya.

Dia mengatakan, bagi kelompok perikanan yang terdampak bencana itu akan diupayakan mendapat pendampingan dari dinas agar tetap bersemangat melanjutkan kegiatan di sektor perikanan tersebut.

"Nanti di (anggaran) perubahan, tapi bentuknya subdisi, kalau kita tidak menggunakan dana tidak terduga, tapi di perubahan nanti kita catat dan kita berikan pelatihan dan sekolah lapang," katanya.
Pewarta :
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar