BPTP Yogyakarta memperkenalkan sistem jajar legowo ke petani Pathuk

id Jajar legowo

Balai Penelitian  Tanaman Pangan Yogyakarta memperkenalkan cara menanam padi jajar legowo di Desa Pengkok, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, yang diharapkan dapat meningkatkan hasil produksi padi.  (Foto ANTARA/Mamiek)

Gunung Kidul (ANTARA) - Balai Penelitian Tanaman Pangan (BPTP) Yogyakarta memperkenalkan cara menanam padi jajar legowo di Desa Pengkok, Kecamatan Pathuk, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan harapan dapat meningkatkan hasil produksi padi.

Kepala BPTP Yogyakarta Joko Pramono di Gunung Kidul, Jumat, mengatakan pihaknya memperkenalkan cara tanam jajar legowo super yang bertujuan meningkatkan produktiviras dalam satuan luas.

"Jajar legowo sendiri bertujuan agar memunculkan border effect yaitu tanaman tepi biasanya lebih tinggi di pematang. Diharapkan dengan jajar legowo ini padi seperti tanaman tepi yaitu lebih tinggi," kata Joko.

Dia mengatakan pada komponen jajar legowo super ini  ada beberapa teknologi yang diimplementasikan mulai dari varietas unggul. Benihnya sudah terkandung pupuk hayati sehingga pertumbuhan benih terhindar dari hama. Kemudian tanamnya juga menggunakan mesin yang merupakan upaya untuk antisipasi tenaga kerja tanam.

BPTP memperkenalkan beberapa varietas baru yang memiliki keunggulan waktu panen cenderung lebih singkat dibandingkan dengan varietas biasa. Hal itu mengingat ada kekhawatiran gangguan karena beberapa wilayah di Kabupaten Gunungkidul  sulit air ketika memasuki musim kemarau.

"Kami juga memperkenalkan varietas yang umurnya pendek yang biasanya 120 hari panen maka, kami mengunakan varietas yang umur panennya hanya 104 hari," katanya.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunung Kidul Bambang Wisnu Broto mengatakan pihaknya tidak terlalu khawatir  melakukan penanaman kali ini di penghujung musim hujan.

Pada 2019 Dinas Pertanian dan Pangan menargetkan area luas tanaman padi seluas 55.888 hektare, hingga saat ini telah merealisasikan 51.385 hektare yang sudah ditanam dan sebagian sudah dipanen,  dengan hasil yang cukup baik.

"Rata-rata produktivitas padi di Gunung Kidul menghasilkan 7-11 ton per hektare gabah kering panen (GKP) dan selama ini belum ada laporan serangan hama. Kami langsung memonitoring. Jika ada serangan hama, langsung kami tindak lanjuti," katanya.
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar