Disdik Sleman mengajukan normalisasi untuk sekolah langganan banjir

id Sekolah dilanda banjir

Salah satu guru di SDN Pogung Kidul , Sleman menunjukkan sudut sekolah yang terimbas banjir luapan. (Foto Antara/Victorianus Sat Pranyoto)

Sleman (ANTARA) - Dinas Pendidikan  Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta mengharapkan bisa mengajukan anggaran normalisasi sekolah melalui APBD Perubahan 2019 untuk dua sekolah yang menjadi langganan terendam banjir pada saat musim hujan sejak beberapa tahun terakhir.

"Ada dua sekolah yang menjadi langganan banjir saat musim hujan, yakni SDN Pogung Kidul dan SMPN 2 Gamping. Kami berharap dapat mengajukan anggaran normalisasi saluran air untuk kedua sekolah tersebut melalui APBD Perubahan," kata Pengelolaan Sarana dan Prasarana Pendidikan Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Sleman Sleman Sri Adi Marsanto di Sleman, Sabtu.

Menurut dia, keduanya sama-sama bermasalah pada saluran pembuangan air, sehingga air masuk ke halaman sekolah dan masuk ke kelas.

"Saluran air hujan tersumbat, nanti akan dinormalkan kembali, mudah-mudahan bisa pada tahun ini," katanya.

Ia mengatakan, pihaknya akan segera berkoordinasi dengan dinas-dinas teknis lain agar permasalahan ini tidak berlarut-larut dan segera ditangani.

"Kami tidak bisa menganggarkan dana perbaikan dengan cepat. Kalau di sini (Disdik) semua sudah terencana dan untuk dana tidak terduga kami juga tidak punya," katanya.

Sri Adi mengatakan, pihaknya hanya dapat mengusulkan anggaran perbaikan pada penyusunan APBD. Untuk SMPN 2 Gamping bahkan akan diusahakan pada anggaran perubahan di Agustus 2019.

'Kalau bisa yang di SDN Pogung Kidul juga di anggaran perubahan," katanya.

Kepala SDN Pogung Kidul Budi Istiningtyas menjelaskan kondisi sekolah yang langganan banjir sudah terjadi sejak 2010.

"Banjir yang masuk ke sekolah akibat ketinggian jalan yang lebih tinggi dari sekolah. Oleh karenanya saat hujan deras, air dari perumahan di sisi utara sekolah mengalirkan air ke dalam halaman sekolah," katanya.

Menurut dia, di sekolah juga sudah ada empat sumur resapan. Namun belum bisa berfungsi secara maksimal. Selain itu, keberadaan saluran drainase di sekitar sekolah juga belum bisa mengalirkan debit air saat hujan deras dan justru meluap.

"Kalau hujan ketinggian air bisa sampai 40 sentimeter dan jika hujan deras dengan durasi yang lama biasanya bisa sampai menyebabkan tiga ruang kelas dan satu kantor terendam. Sehingga mengganggu proses belajar mengajar," katanya.

Ia mengatakan, meskipun luapan air lebih banyak terjadi saat siang setelah siswa selesai belajar namun dirasakan tetap menganggu karena meninggalkan kotoran.

Budi mengatakan, pihaknya juga telah berkomunikasi dengan wali murid untuk mencari solusi terbaik. Entah itu menambah sumur resapan atau meninggikan sekolah.

"Namun terbentur kendala anggaran sekolah yang minim. Memang bisa mengajukan dana bantuan operasional sekolah (BOS). Namun BOS juga terbatas. Sebab, jumlah yang didapat dari BOS tergantung jumlah siswa," katanya.
 
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar