Bupati Kulon Progo keliru saat melipat surat suara di TPS 17

id Bupati Kulon Progo mencoblos,Pemilu 2019

Bupati Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, Hasto Wardoyo keliru melipat surat suara saat mencoblos di Tempat Pemungutan Suara 17 Dusun Klepu, Desa Hargowilis, Kecamatan Kokap, pada 11.00 WIB dengan menggunakan baju koko putih. (Foto ANTARA/Mamiek)

Kulon Progo (ANTARA) - Bupati Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, Hasto Wardoyo keliru melipat surat suara saat mencoblos di Tempat Pemungutan Suara 17 Dusun Klepu, Desa Hargowilis, Kecamatan Kokap, pada 11.00 WIB dengan menggunakan baju koko putih.

Bupati Hasto di Kulon Progo, Rabu, mengatakan Pemilu 2019 ini lebih rumit dibandingkan dengan pemilu-pemilu sebelumnya, karane jumlah partai banyak, peserta pemilu banyak, dan pemilihan DPR RI, DPD RI, DPRD provinsi dan DPRD kabupaten, dan presiden dan wakil presiden secara bersamaan.

"Kartu surat suara Pemilu 2019 ini lebih panjang, lebar dan tebal. Melipat saja pakai waktu. Tadi saya sempat salah melipat. Saya berharap tidak mengurangi validitas suara pemilih," kata Hasto usai mencoblos di TPS 17 Klepu.

Ia juga berharap partisipasi pemilih di Kulon Progo meningkat. Pemilu 2014 lebih dari 75 persen, pada Pemilu 2019 ini diharapkan lebih dari 80 persen.

"Kami berharap partisipasi pemilih di Kulon Progo lebih dari 80 persen," harapnya.

Ia berharap Pemilu 2019 menghasilkan calon anggota legislatif yang mampu membawa aspirasi masyarakat dan mengetahui arah pembangunan di Kabupaten Kulon Progo. Selain itu, menguasai pembangunan di Kulon Progo yang tidak hanya menguasai persoalan pragmatis.

"Jangan sampai caleg yang terpilih hanya menguasai jalan yang rusak, irigasi yang rusak. Mestinya menguasai filosofi pembangunan, contoh Kulon Progo mau dibawa kemana, baik sektor pariwisata, pembangunan industri kreatif dan UMKM. Kami juga berharap caleg terpilih memperjuangkan ekonomi kerakyatan yang berbasis industri 4.0," harapnya.

Selain itu, Hasto juga berharap caleg terpilih memiliki tiga kemampuan visioner, ikhlas dan pemimpin yang sederhana.

"Kalau di Kulon Progo miskin, seharusnya pemimpinnya sederhana, visioner, dan ikhlas," harapnya.

Ia mengaku sangat sedih, karena pragmatisme sangat tinggi. Gejolak pragmatisme lebih tinggi dibanding pada pemilu sebelumnya. Artinya gejolak pramatisme terasa pada Pemilu 2019 dari sebelum-sebelumnya.

Menurut dia, saat ini era-era dengan pencitraan kuat, semoga nanti lahir pemimpin yang idealis. Sepuluh tahun terakhir, pemimpin dilahirkan dari pencitraan.

"Harapan saya, patologi demokrasi ini bisa dikurangi. Sehingga pemilu ke depan ada pemimpin yang berani dan takut pada Tuhan. Mudah-mudahan pragmatisme tidak terbukti. Itu yang kami khawatirkan, mudah-mudahan ada pemimpin yang mencegah pragmatisme," katanya.
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar