Partisipasi pemilih pada Pemilu 2019 di Bantul 88 persen

id Ketua KPU,pemilu serentak,jadi

Ketua KPU Bantul Didik Joko Nugroho (Foto ANTARA/Hery Sidik)

Bantul (ANTARA) - Tingkat partisipasi pemilih pada pemungutan suara Pemilihan Umum serentak 2019 di wilayah Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta mencapai 88 persen dari total jumlah pemilih yang terdaftar di daerah tersebut.

"Secara total rata-rata tingkat partisipasi pemilih di Bantul setelah kemarin terakhir (data) dari Kecamatan Banguntapan masuk, kita itu (Bantul) mencapai 88 persen," kata Ketua KPU Bantul, Didik Joko Nugroho di Bantul, Rabu.

Menurut dia, partisipasi pemilih Pemilu di Bantul yang mencapai 88 persen dari total daftar pemilih tetap (DPT) ditambah pemilih tambahan dan pemilih khusus sekitar 714 ribu yang tersebar di 17 kecamatan tersebut angkanya diatas target rata-rata nasional.

"Tentu ini di atas target partisipasi pemilih secara nasional sebanyak 77,5 persen maupun di atas target kita yang 82 persen. Bahkan dibanding dengan Pemilu 2014 di Bantul meningkat signifikan, kemarin partisipasi sebanyak 81,2 persen," katanya.

Didik mengatakan, tingginya angka partisipasi atau antusiasme masyarakat dalam menggunakan hak pilihnya untuk memilih calon pemimpin di tempat pemungutan suara (TPS) masing-masing itu utamanya karena dari sisi akurasi data pemilih yang lebih baik.

"Pertama dari sisi akurasi data pemilih, karena seperti yang kita lihat proses pemutakhiran data pemilih itu di Pemilu saat ini selalu berulang sampai ada proses penetapan DPTHP-3 (daftar pemilih tetap hasil perbaikan ketiga)," katanya.

Dengan demikian, kata dia, daftar pemilih pemilu itu selalu dimutakhirkan petugas, sehingga akurasi data pemilih lebih baik, selain itu pemilih ganda semakin sedikit, kemudian pemilih yang tidak memenuhi syarat (TMS) semakin sedikit.

Dia juga mengatakan, kalau melihat dari sisi antusiasme masyarakat yang lebih tinggi untuk Pemilu 2019 karena kemungkinan bisa ada analisa juga karena disatukannya pemilihan presiden dan wakil presiden (pilpres) dan pemilihan legislatif (pileg).

"Tetapi tentunya ini perlu dikaji lebih mendalam apakah kemudian antusiasme ini karena digabungkan antara pileg dan pilpres," katanya.

Akan tetapi, kata Didik, yang jelas kalau dari sisi perspektif penyelenggara pemilu paling tidak ada dua hal yang menjadi faktor tingginya partisipasi pemilih. Yang pertama akurasi data pemilih yang terbukti dari beberapa kali penetapan daftar pemilih.

"Kemudian yang kedua terkait sosialisasi pemilu yang masif termasuk kita menggunakan medsos (media sosial) melalui grup netizen, juga ada relawan yang menyasar ke beberapa kelompok masyarakat," katanya.
      Baca juga: "JADI" DIY merekomendasi pemilu tidak lagi digelar serentak
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar