Warga Yogyakarta diminta segera ke puskesmas saat demam untuk antisipasi DBD

id demam berdarah, DB, puskesmas

Ilustrasi - Pengasapan (fogging) untuk membunuh nyamuk aedes aegypti dewasa yang menjadi vektor penular DBD. (ANTARA FOTO/MUHAMMAD BAGUS KHOIRUNAS)

Yogyakarta (ANTARA) - Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta meminta warga untuk segera memeriksakan diri ke Puskesmas apabila mengalami demam karena dikuatirkan terjangkit demam berdarah dengue (DBD) agar lebih dini ditangani. 

“Jika badan demam atau panas, maka jangan ditunda untuk segera periksa ke Puskesmas. Jangan sampai terlambat agar penanganan bisa dilakukan lebih cepat,” kata Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta Yudiria Amelia di Yogyakarta, Jumat.

Menurut dia, masyarakat biasanya menunda dan menganggap remeh demam dan tidak segera melakukan pemeriksaan ke Puskesmas sehingga saat didiagnosa menderita demam berdarah (DB) penanganan menjadi lebih sulit.

Selain itu, lanjut dia, warga belum cermat dalam menentukan hari panas atau saat mulai terserang demam. “Jika sudah merasa ‘greges’ atau badan demam, maka segera saja dicatat waktunya sehingga dokter bisa menentukan hari panas. Misalnya dimulai pada Senin jam 07.00 WIB,” katanya.

Dengan pencatatan waktu panas yang tepat, dokter di Puskesmas bisa melakukan pemeriksaan dan mendiagnosis penyakit dengan lebih tepat.

Dokter di Puskesmas juga akan langsung melakukan rapid tes NS1 untuk mendiagnosa demam berdarah dengan mendeteksi infeksi virus dengue jika pasien menunjukkan sejumlah gejala yang mengarah pada demam berdarah.

“Puskesmas sudah diminta untuk melakukan tes NS1 jika pasien menunjukkan gejala ke arah demam berdarah. Selain demam, gejala demam berdarah juga ditandai dengan nyeri otot dan sendi dan munculnya ruam di kulit,” katanya.

Sampai saat ini, jumlah kasus DB di Kota Yogyakarta tercatat sebanyak 269 kasus. “Ada satu pasien meninggal dunia. Namun, belum kami audit apakah disebabkan oleh DB atau sebab lain,” katanya.

Jika dibanding tahun lalu, Yudiria mengatakan, jumlah kasus DB hingga awal Mei di Kota Yogyakarta meningkat cukup tajam. Pada tahun lalu, jumlah kasus DB hingga November tercatat sekitar 80 kasus saja.

“Meningkatnya kasus DB pada saat ini lebih disebabkan kondisi cuaca yang tidak menentu. Hujan sesekali masih turun meskipun cuaca cenderung panas,” katanya.

Sedangkan untuk kasus Japanese Encephalitis yang juga disebabkan oleh gigitan nyamuk dari jenis Culex Tritaeniorhynchus, Yudiria mengatakan, tidak ditemukan di Kota Yogyakarta.

Ia pun mengingatkan agar masyarakat tetap melakukan upaya pembersihan sarang nyamuk dan pola hidup bersih sehat agar terhindar dari penularan DB atau penyakit lain yang berpotensi merebak akibat kondisi lingkungan yang tidak sehat.
Baca juga: Sebanyak 68 kampung Yogyakarta tumbuh sebagai Kampung Pantib dalam empat tahun

Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar