30 persen sapi dipotong di Bantul didatangkan dari luar provinsi

id sapi potong,bantul

Ilustrasi sapi (Foto ANTARA)

Bantul (ANTARA) - Sekitar 30 persen sapi yang dipotong di rumah pemotongan hewan Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, didatangkan dari kabupaten luar provinsi ini untuk memenuhi kebutuhan daging sapi daerah setempat.

Kepala Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan dan Perikanan Bantul Pulung Haryadi di Bantul, Kamis, mengatakan, jumlah sapi yang dipotong di Unit Pelaksana Teknis Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Segoroyoso sebagai produksi daging Bantul rata-rata 15 ekor per hari.

"15 sapi per hari itu yang dipotong di RPH Segoroyoso saja, di luar itu pasti ada. Itu menjadi produksi daging Bantul, walaupun hewan (sapi) hidupnya tidak semua dari Bantul, sekitar 20 persen sampai 30 persen dari luar Bantul," ucap Pulung Hariyadi.

Pulung mengatakan, sebagian hewan sapi yang dipotong di UPT RPH milik pemerintah daerah itu di antaranya didatangkan dari Temanggung (Jawa Tengah), bahkan dari Bali, sedangkan sisanya berasal dari peternak sapi lokal Bantul.

Dia mengatakan, sebenarnya kalau dilihat dari jumlah ketersediaan sapi di Bantul, kemampuan Bantul untuk memenuhi kebutuhan sapi daerah sendiri lebih dari 70 persen, namun karena masyarakat memelihara sapi bukan untuk dijual, maka mendatangkan dari luar.

"Jadi masyarakat memelihara sapi tapi tidak semua untuk dijual, sehingga kebutuhan masih kurang dan tidak bisa dipenuhi semua dari Bantul. Hewan dari luar kemudian dipelihara di Bantul baru digunakan untuk memenuhi produksi daging," ujar Pulung.

Dengan rata-rata memotong sapi sekitar 15 ekor per hari di RPH Segoroyoso Bantul dan RPH lainnya, maka produksi daging dapat memenuhi kebutuhan masyarakat Bantul, bahkan kebutuhan masyarakat di wilayah Kota Yogyakarta.

Dia mengutarakan harapannya agar pemotongan hewan untuk produksi daging di Bantul dapat dilakukan melalui RPH Segoroyoso, sebab akan dihasilkan daging yang sehat dan layak konsumsi, karena terlebih dulu dilakukan pemeriksaan kesehatan oleh petugas.

"Kalau dipotong di RPH itu kan sapi tidak sehat tidak mungkin masuk, dan tidak mungkin kita potong, karena kita bisa kontrol, sebab ada pemeriksaan sebelum dan sesudah hewan itu dipotong, jadi akan kelihatan, karena kalau di RPH ada pengecekan dulu," kata Pulung Hariyadi.
Baca juga: Stok daging sapi di Kabupaten Bantul mencukupi kebutuhan
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar