Pak Kabul pemburu uang lusuh beraksi di Pasar Beringharjo Yogyakarta

id Uang lusuh, pasar, penukaran, Pak Kabul

Pak Kabul pemburu uang lusuh beraksi di Pasar Beringharjo Yogyakarta

Wakil Wali Kota Yogyakarta Heroe Poerwadi didampingi Kepala Perwakilan BI Yogyakarta Hilman Tisnawan meluncurkan Pak Kabul atau pemburu uang lusuh di Pasar Beringharjo Yogyakarta (Eka Arifa Rusqiyati)

Yogyakarta (ANTARA) - Pasar tradisional terbesar di Kota Yogyakarta, Beringharjo dijadikan sasaran uji coba sebagai kawasan pasar bebas uang lusuh dengan menerjunkan Pak Kabul yaitu petugas pemburu uang lusuh.

Uji coba tersebut merupakan hasil kerja sama antara Pemerintah Kota Yogyakarta bersama Bank Indonesia, serta Bank Mandiri dan Bank Jogja.

“Ini adalah bagian dari pelayanan kepada masyarakat khususnya pedagang di pasar karena salah satu sumber uang lusuh adalah dari pasar. Pada prinsipnya, ini adalah penukaran uang biasa, tetapi layanannya yang kami dekatkan,” kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Yogyakarta Hilman Tisnawan di sela peluncuran Pak Kabul di Yogyakarta, Rabu.

Pak Kabul atau para pemburu uang lusuh tersebut bisa saja bekerja dengan dua metode yaitu memburu uang lusuh dengan mendatangi pedagang satu per satu, misalnya menyasar pedagang yang memiliki pinjaman di bank atau bisa membuat semacam pojok penukaran uang lusuh.

Pemburu uang lusuh yang akan beraksi di Pasar Beringharjo berasal dari petugas di Bank Mandiri, Bank Jogja serta petugas dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Yogyakarta.

“Meskipun dilakukan di pasar tradisional, namun layanan penukaran uang lusuh ini tidak hanya terbatas untuk pedagang saja tetapi bisa diakses oleh siapa saja,” kata Hilman yang menyebut persentase uang lusuh yang beredar di masyarakat mencapai sekitar 10-20 persen dari total uang yang beredar.

Sebagian besar uang yang lusuh adalah pecahan kecil seperti Rp2.000, Rp5.000 dan Rp10.000. Sedangkan uang dengan pecahan lebih besar biasanya masih dalam kondisi yang baik.

“Sumber uang lusuh memang di pasar. Misalnya saja pedagang ikan. Mereka biasanya memasukkan uang pembelian ke ember. Agar uang tidak terbang, ember dibasahi terlebih dulu. Ini bukan perlakuaan yang baik terhadap uang,” katanya.

BI, lanjut Hilman, akan menyiapkan dana sekitar Rp300 juta per hari untuk mendukung layanan penukaran uang lusuh di Pasar Beringharjo dan diutamakan pecahan kecil sesuai kebutuhan pedagang.

Selain memiliki fungsi pelayanan, Hilman berharap, kegiatan penukaran uang lusuh tersebut sekaligus memberikan edukasi kepada pedagang untuk menyimpan uang dengan cara yang baik, misalnya tidak boleh dilipat atau disimpan secara sembarangan. “Uang lusuh selain tidak enak dilihat, juga mengandung banyak kuman yang berpotensi menularkan penyakit,” katanya.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Yogyakarta Heroe Poerwadi mengatakan, pedagang membutuhkan edukasi yang lebih baik untuk menyimpan uang. “Biasanya, pedagang hanya memasukkan uang secara sembarangan ke tempat penyimpanan tertentu tanpa memperhatikan apakah kondisi uang tersebut masih baik atau sudah lusuh,” katanya.

Ia pun meminta pedagang rutin menukarkan uang lusuh yang dimiliki ke Pak Kabul. “Jika tujuannya digunakan sebagai uang kembalian, maka konsumen pasti akan senang jika memperoleh uang dalam kondisi yang bagus. Mungkin, mereka akan kembali berbelanja lagi karena yakin uang kembalian selalu bagus,” katanya.

Heroe berharap, uji coba di Pasar Beringharjo tersebut dapat dilanjutkan di pasar tradisional lain di Kota Yogyakarta sehingga jumlah uang lusuh yang beredar di pasar tradisional bisa semakin berkurang.
Baca juga: BI Perwakilan DIY membuka layanan "drive thru" penukaran uang

Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar