Wanita misterius muncul kagetkan aparat di depan Gedung Jaya

id Aksi 22 Mei,demo 22 mei

Ilustrasi ransel (Pixabay)

Jakarta (ANTARA) - Seorang wanita misterius berbusana hitam-hitam dengan penutup wajah warna hitam muncul dari Jalan MH Thamrin di depan Gedung Jaya, Jakarta, tiba-tiba muncul mengagetkan aparat karena diduga ingin mengacaukan keadaan, Rabu malam.

Setelah polisi berhasil mengendalikan keadaan dan menguasai Perempatan Sarinah, tiba-tiba seorang perempuan berbusana hitam-hitam dengan penutup wajah warna hitam dengan ransel hitam mendekati kerumunan petugas di perempatan di depan Gedung Jaya.

Perempuan tersebut langsung diperintahkan aparat polisi di depan Gedung Jaya untuk berlutut dan meletakan tas ranselnya.

Petugas komando polisi berulangkali memberikan perintah kepada perempuan yang tidak diketahui identitasnya tersebut untuk melepaskan tas dan menunduk.

"Segera lepaskan tas itu, segera lepaskan tas itu, jika tidak saya perintahkan tembak," kata aparat.

Walau perintah tembak tidak jadi diluncurkan, namun gas air mata meluncur tepat di titik dimana perempuan itu berada.

Kemunculan perempuan tersebut tak pelak menimbulkan kegemparan dan meningkatkan kesiagaan semua personel polisi yang berjaga di Perempatan Sarinah dan sekitarnya.

Petugas di mobil komando memerintahkan semua orang di lokasi untuk menjauh karena di duga membawa benda yang tersusun dari kabel-kabel.

Setelah ditembaki peluru gas air mata, wanita tersebut kemudian berjalan menuju ke arah depan gedung Bank Mandiri.

Duduk di pinggir jalan di depan Gedung Bank Mandiri, wanita tersebut kemudian melepaskan tas hitamnya.

Meski diminta untuk menjauhkan tas tersebut, wanita itu tetap bergeming, namun akhirnya seorang aparat dapat menjauhkan tas itu dari sisinya, dengan melempar ke tengah jalan.

Setelah dibuka, tas tersebut berisi sebuah charger, botol minum dan dua botol kecil, satu buku dan KTP.

Wanita itu, terus meminta kembali tas berwarna hitam itu sambil duduk.
Baca juga: Massa dan polisi sama-sama siaga di Jalan KS Tubun
Pewarta :
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar