BPBD mengimbau wisatawan pantai selatan waspadai gelombang tinggi

id BPBD Bantul,gelombang tinggi

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul Dwi Daryanto (Foto ANTARA/Hery Sidik)

Bantul (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengimbau wisatawan yang berkunjung ke kawasan pantai selatan daerah ini mewaspadai gelombang tinggi yang berpotensi terjadi di perairan tersebut.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul Dwi Daryanto di Bantul, Rabu, mengatakan, informasi dari  BMKG bahwa gelombang laut dengan ketinggian 4 hingga 6 meter berpotensi terjadi di seluruh wilayah terutama selatan Bantul.

"Khususnya untuk wisatawan, karena ini masih musim libur anak sekolah dimungkinkan wilayah pantai masih menjadi tujuan objek wisata, harapan kita wisatawan mematuhi, mengikuti arahan dari petugas SAR di sepanjang pantai selatan," katanya.

Menurut dia, potensi gelombang tinggi dengan ketinggian diatas normal tersebut diprediksi terjadi sejak Selasa (11/6) hingga sepekan ke depan, sehingga wisatawan diimbau tidak mandi di laut atau bermain air di pantai.

"Tinggi gelombang memang variatif, dan terkait dengan ketinggian itu dipengaruhi karena kondisi angin yang lepas dari samudera," katanya.

Dwi juga mengatakan, di samping potensi gelombang tinggi, pada musim ini juga dimungkinkan masih ada kemunculan ubur-ubur atau binatang laut yang menyerupai gelembung berwarna biru, sehingga wisatawan tetap waspada.

Apalagi, kata dia, selama libur Lebaran 2019 sudah banyak wisatawan di pantai yang tersengat ubur-ubur dan harus mendapat penanganan dan pertolongan dari petugas SAR pantai setempat.

"Mungkin masyarakat tidak paham dengan binatang itu, karena bentuknya bagus dan menarik sehingga dimungkinkan kalau melihat bisa menjadi mainan, padahal dampaknya luar biasa karena mengandung sengatan yang berdampak merugikan bagi wisatawan itu sendiri," katanya.
Baca juga: Lobster Mutiara muncul diperairan pantai selatan Gunung Kidul
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar