Rektor: halal bihalal momentum membuka hati saling memaafkan

id uin sunan kalijaga, halal bihalal

Rektor: halal bihalal momentum membuka hati saling memaafkan

Halal bihalal dan Syawalan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta (foto istimewa)

Yogyakarta (ANTARA) - Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta Prof Yudian Wahyudi mengatakan halal bihalal menjadi momentum paling tepat bagi umat Muslim untuk membuka hati saling memaafkan, sehingga hati menjadi bersih kembali tanpa kebencian antarsesama umat.

"Terkadang membuka hati untuk saling memaafkan antarsesama Muslim amatlah sulit dilakukan, tanpa membuka momen yang tepat seperti dalam majelis halal bihalal," katanya di Gedung Prof Dr HM Amin Abdullah, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Rabu.

Oleh karena itu, kata Yudian dalam acara halal bihalal, Syawalan dan pelepasan calon jamaah haji keluarga besar UIN Sunan Kalijaga, budaya halal bihalal yang ada di negeri ini perlu terus dilestarikan. Yakinlah bahwa Allah SWT akan mengampuni setiap dosa antara sesama melalui halal bihalal.

"Dengan demikian, kita menjadi kembali fitri setelah satu bulan melaksanakan ibadah puasa Ramadhan dan halal bihalal, baik dosa-dosa kepada Allah SWT maupun dosa-dosa dengan sesama umat manusia," katanya.

Menurut dia, dengan berpuasa Ramadhan  karena taqwa, Allah SWT akan mengampuni dosa-dosa umat Muslim. Namun, ada dosa-dosa umat Muslim yang Allah SWT belum akan mengampuninya sebelum ada ungkapan saling memaafkan dengan ikhlas antara sesama manusia.

Oleh karena itu, usai melaksanakan ibadah puasa Ramadhan dan shalat Idul Fitri, setiap komunitas umat Muslim di Indonesia saling membentuk majelis halal bihalal. Hal itu dimaksudkan agar sesama umat Muslim bertemu di majelis ini, dan berikrar untuk saling memaafkan.

Selain halal bihalal, menurut Yudian, umat Muslim di Indonesia memiliki budaya syawalan. Syawalan memiliki makna yang berbeda dengan halal bihalal. Syawalan bermakna pertanggungjawaban.

Setiap Muslim ditakdirkan untuk menjadi pemimpin. Untuk menjadi pemimpin seseorang harus memiliki ilmu, maka agar mampu menjadi pemimpin, umat Muslim harus menuntut ilmu sepanjang hayatnya, dan itu akan dituntut pertanggungjawabannya di hadapan Allah SWT.

"Dalam Al Quran disebutkan kewajiban Iqro' (bacalah). Maknanya adalah kewajiban untuk menuntut ilmu," kata Yudian.

Ia mengatakan momentum Idul Fitri adalah waktu yang tepat untuk refleksi diri, apa yang telah dilakukan sebelumnya, terkait dengan kewajiban menuntut ilmu.

Yudian berharap melalui majelis halal bihalal dan syawalan UIN Sunan Kalijaga dapat menjadi pemacu semangat saling menjalin hubungan baik untuk beramal saleh dan menuntut ilmu yang bermanfaat bagi lingkungan, bagi sesama, dan bagi pengembangan kampus, sebagai perwujudan ketaqwaan kepada Allah SWT.

"Saya meyakini, dengan terus memelihara hati yang bersih, menjalin hubungan yang baik dengan sesama, melakukan amal kebaikan sekecil apapun dan bersemangat dalam menuntut ilmu sepanjang hayat akan membawa kebahagiaan di dunia dan di akherat kelak. Karena dosa itu hanya satu, sementara pahala itu berlipat-lipat," katanya.

Pada acara halal bihalal dan sywalan kali ini, Rektor UIN Sunan Kalijaga melakukan pelepasan 12 dosen dan pegawai yang akan melaksanakan ibadah haji tahun ini ditandai dengan penyerahan cendera mata.

Acara halal bihalal dan syawalan diakhiri dengan saling berjabat tangan antara pimpinan, pegawai, dosen, dan pemangku kepentingan UIN Sunan Kalijaga.

Baca juga: Ribuan masyarakat menghadiri syawalan Gubernur DIY di Sleman
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar