Pakar usulkan beban administrasi guru perlu dikurangi

id Administrasi,Guru,sertifikasi

Pakar usulkan beban administrasi guru perlu dikurangi

Ilustrasi. (FOTO ANTARA)

Yogyakarta (ANTARA) - Pakar Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta Wuryadi mengatakan beban tugas administrasi untuk guru perlu dikurangi agar mereka memiliki waktu lebih luas untuk berkonsentrasi membenahi kualitas pendidikan di sekolah.

"Tugas-tugas yang bersifat administratif perlu dikurangi agar guru memiliki waktu lebih banyak untuk mendidik, bukan sekadar mengajar," kata Wuryadi di Yogyakarta, Senin.

Hal itu disampaikan Wuryadi, menanggapi munculnya video hubungan seksual di dalam kelas yang dilakukan siswa-siswi SMK di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Kasus itu, menurut dia, merupakan dampak dari rendahnya kualitas pendidikan di sekolah.

Ia berpandangan bahwa siswa sekolah di era saat ini cenderung sulit dikendalikan dibandingkan pada masa lalu karena siswa memiliki sumber informasi yang sangat luas dari alat-alat digital atau gadget.

"Itu sulit dikendalikan guru maupun orang tua. Apalagi kalau orang tuanya bersifat keras dan sama sekali tidak peduli dengan perkembangan anaknya," kata dia.

Tanpa konsentrasi lebih banyak untuk membenahi kualitas pendidikan, menurutnya, sulit bagi guru untuk membentuk moral siswa di era digital ini karena pendidikan dan pengajaran merupakan dua hal yang berbeda.

"Mendidik itu lebih pada aspek memberikan kemerdekaan nurani. Sedangkan mengajar itu lebih pada menuntun kemerdekaan pikiran atau otak," kata mantan Ketua Dewan Pendidikan DIY ini.

Menurut Wuryadi, saat ini guru lebih banyak disibukkan dengan tugas administrasi yang merupakan konsekuensi dari pelaksanaan Kurikulum 2013 yang diterapkan sejak era Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M Nuh.

"Sejak era itu guru mendapat 25 macam beban administrasi akibatnya tugas mendidik anak jadi sekadar mengajar saja," kata dia.

Padahal, lanjut dia, jika merujuk pada konsep Tri Sentra Pendidikan seperti yang diajarkan Ki Hajar Dewantara, program pendidikan tidak sekadar melibatkan sekolah atau satuan pendidikan, melainkan juga melibatkan keluarga dan masyarakat.

Dengan menerapkan program itu, maka sekolah, keluarga, dan masyarakat akan saling bertukar informasi secara terpadu mengenai kegiatan apa saja yang dilakukan anak atau siswa.

"Sehingga apa yang tidak mampu dijangkau sekolah akan dijangkau oleh lingkungan masyarakat dan keluarga. Semuanya harus aktif," kata dia.

Baca juga: Koentjoro : Profesor bukan gelar akademik seumur hidup
Pewarta :
Editor: Eka Arifa
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar