Terdakwa perusakan kertas suara di Gunung Kidul dituntut satu bulan

id Pemilu 2019,Perusakan surat suara,kpu gunung kidul

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ari Hani Saputri. (Foto ANTARA/Sutarmi)

Gunung Kidul (ANTARA) - Terdakwa kasus perusakan dan pembakaran surat suara di TPS 09, Desa Karangmojo, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada pemilihan umum (Pemilu) pada Rabu (17/4), Mahardika Wirabuana Krisnamurti hukuman 1 bulan penjara dan denda Rp1 juta subsider 1 bulan.

"Terdakwa dinyatakan bersalah melanggar Pasal 531 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum," kata Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ari Hani Saputri dalam sidang lanjutan di Pengadilan Negeri Wonosari, Rabu.

Ia mengatakan, terdakwa Mahardika Wirabuana Krisnamurti diajukan ke pengadilan lantaran melakukan pembakaran surat suara saat pemilu Rabu 17 April 2019 yang terjadi di TPS 09, Dusun Jaranmati II, Kecamatan Karangmojo.

Kejadian itu diketahui sejumlah saksi dan atas kejadian tersebut terdakwa akhirnya dilaporkan oleh Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) dan ke Polres Gunung Kidul. Selanjutnya setelah menjalani proses penyelidikan Gakkumdu yang bersangkutan akhirnya diproses hukum.

"Dalam perkara tersebut terdakwa disangka melakukan pelanggaran hukum dan memenuhi unsur dalam delik pidana pemilu," kata Ari.

JPU Ari mengatakan, hal-hal yang meringankan atas perbuatan terdakwa adalah yang bersangkutan kooperatif, mengaku terus terang dan tidak berbelit-belit hingga memperlancar jalannya persidangan.

Selain itu, terdakwa juga mengakui menyesali perbuatannya dan tidak akan mengulangi lagi.

"Pertimbangan lain bahwa perbuatan yang dilakukan terdakwa tidak menimbulkan gejolak politik di tengah masyarakat," katanya.

Sidang akan dilanjutkan Kamis (20/6) dengan agenda penyampaian pembelaan terdakwa. Majelis Hakim diketuai Trijoko Yohanes Gantar Pamungkas dan dua hakim anggota, Agung Budi Setiawan dan Melia Nur Pratiwi.

Baca juga: KPU Gunung Kidul menetapkan caleg terpilih Pemilu 2019 awal Juli
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar