Pemkab sebut tingkat kunjungan wisatawan mancanegara ke Bantul masih kecil

id Dinas Pariwisata Bantul

Kepala Dinas Pariwisata Bantul Kwintarto Heru Prabowo (Foto ANTARA/Hery Sidik)

Bantul (ANTARA) - Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta menyatakan tingkat kunjungan wisatawan mancanegara ke destinasi wisata daerah ini masih relatif kecil dibandingkan dengan kunjungan ke Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman.

"Yang menjadi 'PR' (pekerjaan rumah) kita memang untuk wisman (wisatawan mancanegara) di Bantul termasuk kecil, jauh dan kalah dengan kota (Yogyakarta), Sleman dan sebagainya," kata Kepala Dinas Pariwisata Bantul Kwintarto Heru Prabowo di Bantul, Kamis.

Menurut dia, kunjungan wisatawan asing ke Bantul masih relatif kecil itu karena diakui di Bantul masih belum memiliki beragam objek wisata yang sudah dikembangkan secara khusus untuk menggaet wisatawan asing, tidak seperti di Yogyakarta dan Sleman.

"Itu karena ada area (di Bantul) yang kita kurang mampu mengeksplore, dan tahun kita akan mencoba untuk mengeksplore kawasan pariwisata berbasis budaya dan berbasis masyarakat, ini yang akan kita kembangkan," katanya.

Dia menjelaskan, sebab pariwisata berbasis budaya dan masyarakat yang sudah ada di Bantul seperti Desa Wisata Tembi tren wisatawan asing yang berkunjung ke wisatawan berbasis budaya itu justru lebih banyak ketimbang wisata alam atau pantai.

"Artinya bahwa wisata di desa menjadi pilihan dan seperti desa wisata Mangunan Dlingo juga sudah terbukti banyak wisatawan asing, mudah-mudahan nanti pertumbuhan wisatawan asing di Bantul semakin lama makin bagus," katanya.

Kwintarto mengatakan, secara angka kunjungan wisman ke Bantul, dia belum bisa menyebutkan secara rinci karena mayoritas berkunjung ke objek wisata non-retribusi atau wisata yang tidak dikelola secara resmi oleh pemerintah daerah.

Akan tetapi, kata dia, kalau diprosentase kunjungan wisman kurang dari lima persen dari total kunjungan wisatawan ke Bantul yang sekitar 9 juta orang pada tahun 2018, yang tersebar di objek wisata beretribusi (ada tiket masuk) dan non-retribusi.

"Prosentasenya masih kecil sekitar lima persenan untuk wisawatan asing, jadi angkanya sangat kecil, sehingga mudah-mudahan nanti bisa berkembang secara bertahap," katanya.
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar