Yogyakarta mengupayakan perbaikan layanan di panti sosial

id Panti wreda, panti anak,layanan di panti sosial,layanan panti sosial,perbaikan layanan di panti sosial,perbaikan layanan

Pengurus (tengah) berinteraksi dengan orang tua lanjut usia (lansia) di Panti Wreda Sultan Fatah di Desa Bintoro, Demak, Jawa Tengah, Selasa (20/3/2018). Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas memprediksi pada tahun 2045 mendatang jumlah lansia di Indonesia akan meningkat tiga kali lipat dari 22 juta lansia menjadi sekitar 62 juta lansia, dengan rasio ketergantungan penduduk nonproduktif terhadap penduduk produktif mencapai sekitar 52,3 persen. (ANTARA FOTO/Aji Styawan)

Yogyakarta (ANTARA) - Dinas Sosial Kota Yogyakarta mengupayakan perbaikan layanan seluruh unit pelaksana teknis panti sosial yang berada di bawah kewenangan dinas, seperti Panti Wreda Budi Darma serta Panti Anak Wiloso Projo.

“Perbaikan layanan di kedua panti ini dilakukan dengan pendekatan kebutuhan. Kami upayakan bisa memenuhi kebutuhan tiap panti secara bertahap,” kata Kepala Dinas Sosial Kota Yogyakarta Agus Sudrajat di Yogyakarta, Kamis.

Menurut Agus, kebutuhan untuk Panti Wreda Budi Darma dan Panti Anak Wiloso Projo berbeda. Panti wreda membutuhkan perbaikan layanan untuk warga lansia penghuni panti terutama di bidang kebersihan dan kesejahteraan. Sedangkan untuk panti anak membutuhkan perbaikan fisik bangunan karena panti menempati bangunan yang berusia tua.

“Beberapa hari lalu memang ada unggahan melalui media sosial tentang kondisi di Panti Wreda Budi Darma. Kami pun berterima kasih karena ada pihak-pihak lain yang juga memperhatikan kondisi panti. Sejak ada unggahan itu, kami pun sudah melakukan berbagai upaya perbaikan layanan,” katanya.

Perbaikan layanan yang dilakukan di antaranya perubahan standar operasional prosedur tentang kebersihan panti. Jika sebelumnya, kegiatan pembersihan dilakukan sebelum jam makan, maka saat ini pembersihan dilakukan sebelum dan sesudah jam makan.

Selain itu, Agus mengatakan, akan bekerja sama dengan psikolog untuk melakukan “assessment” terhadap kondisi kejiwaan penghuni Panti Wreda Budi Darma. “Pelayanan psikologi ini sangat penting karena banyak penghuni panti yang sudah berusia lanjut ini memiliki kondisi kejiwaan yang berbeda-beda,” kata Agus.

Ia menambahkan, penghuni panti terkadang memiliki kebiasaan yang cukup unik, seperti mengumpulkan plastik kemasan dan disimpan di bawah alas tempat tidur dan tidak ada orang yang boleh menyentuhnya, atau terkadang memiliki kebiasaan memberi makan kucing sehingga mengotori kamar, serta lansia yang gemar bertukar makanan dengan lansia lain.

Saat ini, Panti Wreda Budi Darma dihuni oleh sekitar 60 orang dan Agus memastikan kapasitas panti masih cukup. Ruangan di Panti Wreda Budi Darma dibagi dalam tiga area, yaitu area mandiri, area observasi dan area isolasi.

“Khusus di panti wreda, kami akan menerapkan ‘tagline’ layanan yaitu melayani lansia seperti mereka adalah orang tua atau saudara kita,” katanya.

Sedangkan Panti Anak Wiloso Projo saat ini dihuni sekitar 70 anak. Selain menjalani hari-hari di sekolah, anak yang tinggal di panti juga memperoleh pembekalan keterampilan.

“Khusus di panti anak, yang dibutuhkan adalah perbaikan bangunan. Namun, untuk perbaikannya harus berkoordinasi dengan dinas terkait karena bangunanya berstatus cagar budaya,” katanya.

Baca juga: Alfamidi memberikan donasi kepada Panti Asuhan Muhammadiyah Al Amin

Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar