Susilawati Susmono gelar pameran tunggal "Serat Holistik Kehidupan"

id pameran,serat,holistik

Panitia dan kurator pameran tunggal Susilawati Susmono bertajuk Serat Holistik Kehidupan di Jogja Gallery Yogyakarta (Foto ANTARA/Bambang)

Yogyakarta (ANTARA) - Susilawati Susmono menggelar pameran tunggal bertajuk Serat Holistik Kehidupan di Jogja Gallery, Alun-Alun Utara Yogyakarta, pada 22 Juni hingga 3 Juli 2019.

"Pameran tunggal itu menyuguhkan 3.680 karya Susilawati Susmono," kata kata Humas Pameran Tunggal "Serat Holistik Kehidupan" Bima Himawan Ramantika di Yogyakarta, Kamis.

Menurut dia, ribuan karya yang dipamerkan itu dalam beragam bentuk dan rupa, di antaranya buku, karya ilmiah, karya sastra, lukisan, batik, lagu, dan tari, yang merupakan kesatuan yang utuh dengan tali sambung serat ketauhidan.

"Karya-karya itu merupakan anugerah dan manifestasi kekayaan Sang Maha Pencipta," kata Bima.

Penyelenggara pameran, Sandra Rina Sahelangi mengatakan pameran karya Susilawati Susmono itu sangat fenomenal karena menyajikan total 3.680 karya yang terdiri atas 100 buku, 588 karya sastra, 43 lagu, 15 tari, 2.479 serat Al Quran.

Selain itu, 285 manuskrip serat, 130 lukisan, 24 guci, 12 teko kaca, dan satu tugu serat sebagai "masterpiece" serta tiga desainmotif batik bertajuk Gunungan, Pintu Langit Terbuka, dan Keranjang Amal.

"Pameran bertema Mengenal Bongkahan Emas dan Permata Diri, Bangsa, dan Dunia itu bertujuan menjaga dan menggali warisan budaya bangsa sebagai upaya memperbagus karya secara berkesinambungan agar peradaban mulia terwujud," kata Sandra.

Penanggung jawab pameran, Elisa Anggraeni mengatakan karya-karya serat holistik kehidupan dalam beragam bentuk dan rupa itu merupakan anugerah dan manifestasi kekayaan Sang Maha Indah.

"Banyaknya karya dan kedalaman kandungan cahaya kebajikan di dalam karya-karya tersebut sungguh merupakan sebuah karunia Ilahi. Karya-karya dalam pameran yang digelar untuk berbagai kalangan, lintas agama, bangsa, suku, ras, usia, dan profesi itu mampu mengalirkan cahaya keindahan," kata Elisa.

Kurator pameran, Mikke Susanto mengatakan pameran itu ingin menunjukkan tentang "kuasa kata" dan "sastra ruang". Keduanya menjadi simpul penting, mengingat pameran tersebut diajukan sebagai sebuah asumsi untuk melihat tujuan manusia diciptakan melalui materi yang dipamerkan.

"Agenda yang menampilkan karya Susilawati Susmono itu meyakinkan saya tentang adanya pola kebersatuan antara ruang, rupa, dan sastra. Karya-karya itu menelaah berbagai sisi kehidupan manusia yang dilingkupi oleh berbagai nilai," kata Mikke.

Baca juga: Seniman Indonesia adakan pameran di Nanjing
Pewarta :
Editor: Hery Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar