Bantul kembangkan pariwisata berbasis budaya dan masyarakat

id pariwisata berbasis budaya,kunjungan wisatawan,kabupaten bantul

Illustrasi: Pengunjung menikmati pemandangan alam di kawasan wisata Puncak Kebun Buah Mangunan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ( ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/nz/17.)

Bantul (ANTARA) - Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, akan mengembangkan pariwisata berbasis budaya dan masyarakat  guna menarik minat wisatawan khususnya wisatawan mancanegara.

"Tahun ini kami akan mencoba untuk mengeksplorasi pariwisata berbasis budaya dan berbasis masyarakat. Ini yang kami kembangkan untuk menambah daya tarik wisatawan asing," kata Kepala Dinas Pariwisata Bantul Kwintarto Heru Prabowo di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu.

Menurut dia, pariwisata berbasis budaya dan masyarakat yang akan dikembangkan di wilayah Bantul antara lain desa wisata yang sejauh ini sudah terbukti mendatangkan wisatawan domestik maupun asing.

"Dan yang kami lihat memang ada tren di Tembi (desa wisata dan budaya) wisatawan asing di sana justru banyak, artinya wisata di desa menjadi pilihan dan di desa wisata Mangunan sudah terbukti banyak wisatawan asing di sana," katanya.

Dia menjelaskan desa wisata dan budaya tersebut dalam pengelolaannya melibatkan masyarakat dengan mengoptimalkan potensi budaya dan kondisi desa setempat, sehingga pemerintah terus mendorong dan fasilitasi pengembangannya.

"Mudah-mudahan dengan cara seperti itu nanti pertumbuhan wisatawan asing di Bantul semakin lama semakin bagus, karena kalau saat ini prosentasenya masih kecil sekitar lima persenan untuk wisatawan asing," katanya.

Dia juga mengatakan masing-masing daerah mempunyai keinginan untuk saling menggaet wisatawan baik mancanegara maupun lokal, dan di Kabupaten Bantul diakuinya juga memiliki karakteristik dan khas yang dapat dijual untuk mendatangkan wisatawan.

"Kalau berbicara karakteristik Bantul, InsyaAllah dengan kekhasan Bantul bisa menjadi pilihan utama dan bukan sampingan, namun tentu saja yang tidak bisa kita hindari itu adalah fungsi pelayanan kita kepada wisatawan," katanya.

Oleh karena itu, kata dia, selama fungsi pelayanan belum baik, maka untuk menarik wisatawan asing sulit diwujudkan, makanya dengan membangun pariwisata berbasis budaya dan masyarakat serta peningkatan pelayanan perlu dilakukan.

"Karena saya paham betul beberapa karakter wisatawan itu pelayanan nomor satu, keindahan objek wisata dan sebagainya nomor dua, jadi keramahan kebersihan dan kenyamanan itu yang mereka harapkan sekalipun di tempat sederhana," katanya.

"Bahkan di desa wisata yang bagi kita itu tempat tidak menarik, tapi bagi mereka menarik, karena di negara asal sudah tidak dijumpai lagi, jadi bagaimana memberikan pelayanan terbaik, ini yang selalu kami gelorakan bagi pelaku usaha pariwisata," katanya.

Baca juga: Menggali potensi tradisi menjelang Ramadhan sebagai kekuatan wisata
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar