BMKG: sejumlah wilayah di DIY berstatus "Awas" kekeringan

id Bmkg,Kekeringan,Yogyakarta,kekeringan,musim kemarau,air bersih,dampak kekeringan

Ilustrasi- kekeringan (ANTARA Foto/Luqman Hakim)

Yogyakarta (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Yogyakarta menyebutkan sejumlah wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta berstatus Awas terhadap potensi kekeringan meteorologis.

"Status Awas karena telah mengalami lebih dari 61 Hari Tanpa Hujan (HTH) dan prospek peluang curah hujan rendah di bawah 10 milimeter per dasarian," kata Kepala kelompok data dan informasi Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta Etik Setyaningrum di Yogyakarta, Kamis (4/7).

Etik menyebutkan sejumlah wilayah yang berstatus Awas adalah Kecamatan Kasihan, Jetis, Imogiri, Pajangan, Pandak, Bantul, Sewon, Banguntapan, Piyungan (Kabupaten Bantul), Tanjungsari, Paliyan, Girisubo, Rongkop, Karangmojo, Ponjong, Wonosari, Saptosari, Semanu, Tepus (Gunungkidul) dan Kecamatan Panjatan di Kulon Progo.

"Kalau kita prediksikan puncak musim kemarau terjadi pada Agustus, berarti potensi kekeringan sampai Agustus masih ada," kata Etik.

Selain itu, lanjut dia, sejumlah daerah di DIY juga ditetapkan berstatus Siaga atau telah mengalami lebih 31 HTH dan prospek peluang curah hujan rendah di bawah 10 milimeter per dasarian.

Daerah tersebut, yaitu Kecamatan Pleret, Piyungan, Bambanglipuro, Pundong, Dlingo, Kretek, Kasihan, Sedayu (Bantul), Berbah, Prambanan, Ngemplak, Cangkringan, Seyegan, Moyudan, Minggir, Kalasan, Ngemplak, Pakem, Depok, Gamping, Turi, Godean, Sleman, Ngaglik (Sleman), Kokap, Pengasih, Girimulyo (Kulon Progo), dan Kecamatan Patuk, Purwosari, Ngawen, Nglipar, Playen, Semin (Gunungkidul).

Ia mengatakan berdasarkan pantauan BMKG dan beberapa Lembaga Internasional terhadap kejadian anomali iklim global di Samudera Pasifik menunjukkan kondisi El Nino Lemah.

Sedangkan anomali suhu permukaan laut (SST) di wilayah Samudera Hindia menunjukkan kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) positif. Kondisi ini diperkirakan akan berlangsung setidaknya hingga Oktober, November, Desember 2019.

Masyarakat diimbau waspada dan berhati-hati terhadap kekeringan yang bisa berdampak pada sektor pertanian dengan sistem tadah hujan, kekurangan air bersih, dan peningkatan potensi kemudahan kebakaran.
     Baca juga: BPBDmengharapkan ada inventarisasi sumber mata air wilayah rawan kekeringan
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar