Muhammadiyah berbagi kiat sukses di Masjid Alwi Malaysia

id Muhammadiyah,Muhammadiyah di Perlis

Forum Agama Gerakan Pembaharuan Islam di Nusantara : Peranan Muhammadiyah yang diselenggarakan di Masjid Alwi, Negara Bagian Perlis, Malaysia, Kamis malam (Foto ANTARA / Sonny Zulhuda) (1)

Kuala Lumpur (ANTARA) - Pimpinan Pusat Muhammadiyah berbagai kiat sukses pengelolaan organisasi tersebut dalam "Forum Agama Gerakan Pembaharuan Islam di Nusantara : Peranan Muhammadiyah" yang diselenggarakan di Masjid Alwi, Negara Bagian Perlis, Malaysia, Kamis malam.

Kegiatan yang disiarkan secara langsung melalui laman Facebook Suara Sunnah Channel, menampilkan panelis Mufti Negeri Perlis, Prof Madya Dr Mohd Asri Zainul Abidin dan Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Dr Abdul Mu'ti MEd.

Ketua Umum PP Muhammadiyah Dr Haedar Nasir dalam sambutannya menjelaskan peran Muhammadiyah di Indonesia.

"Muhammadiyah adalah gerakan Islam yang membawa misi dakwah dan tajdid yang Alhamdulillah saat ini jumlah anggotanya 40 juta orang. Kami memiliki 166 perguruan tinggi dengan 55 universitas dan 110 college atau institut, sekolah tinggi dan akademi. Insyallah nanti akan kerjasama dengan Negeri Perlis akan membuka Universitas Muhammadiyah," katanya.

Haedar mengatakan pihaknya ingin membawa kembali kepada Al Quran dan sunnah yang otentik dengan Muhammadiyah serta menjalankan Islam sebagai rohmatan lil alamin.
Kehadiran Haedar di Negeri Perlis juga untuk bersilaturahmi ke Tuanku Raja Perlis dan para tokoh setempat juga untuk menyampaikan salam persaudaraan bagi saudara-saudara sesama Muslim di Perlis.

"Kami ingin memurnikan aqidah dengan asas tauhid. Dengan tauhid yang kuat menjadi dasar dalam habluminallah dan habluminanas," katanya dalam diskusi yang diikuti puluhan orang dari jamaah masjid dan anggota Suara Sunnah Channel.

 Ustadz Rizal Azizan sebagai moderator memancing diskusi dengan menanyakan rahasia kesuksesan Muhammadiyah dalam membina sebuah institusi non-pemerintah yang memiliki segala perangkat yang diperlukan sebuah negara.  

Abdul Mu'ti mengatakan Muhammadiyah bertahan selama lebih dari seabad karena berusaha terus konsisten untuk merujuk kepada Al-qur'an dan Al-hadits.

"Yang kedua Muhammadiyah berprinsip bahwa kehidupan kita akan sukses dan bahagia jika kita selalu beriman dan beramal soleh. Ada kesinambungan antara keduanya. Amal soleh ini bukan hanya ritual amaliah mahdoh, namun mencakup segala kegiatan kehidupan manusia yang diridhoi Allah," katanya.

Alumni perguruan tinggi di Australia itu mengatakan aktivitas tersebut akan bernilai amal sholeh jika pertama, diniatkan untuk Allah, kedua sesuai kaifiyyah yang ditentukan dan ketiga dilakukan secara profesional misalnya amal usaha yang harus akuntabel, keempat bermanfaat untuk orang lain dan mempunyai dimensi islah yaitu peningkatan dan pembaharuan.
Baca juga: Muhammadiyah: sifat positif perlu warnai proses politik

 
Pewarta :
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar