SMP negeri di Sleman siap melaksanakan KBM dengan siswa yang beragam

id Sleman,SMP negeri,Siswa SMP,PPDB SMP

Ilustrasi - Bupati Batang Wihaji saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke SMP Negeri 1 Batang. Saat itu, bupati menyempatkan bertatap muka dengan para siswa baru (Foto Kutnadi)

Sleman (ANTARA) - Sejumlah Sekolah Menengah Pertama (SMP) negeri di Kabupaten Sleman melaksanakan kegiatan belajar mengajar (KBM) dengan para siswa dari berbagai latar belakang, setelah adanya kebijakan zonasi penerimaan peserta didik baru (PPDB) 2019.

"'Input' siswa yang kami terima sangat beragam, tetapi kami tetap harus siap melaksanakan KBM karena ini sudah merupakan kebijakan. Hanya saja memang ada metode untuk menyelaraskan semua siswa," kata Kepala SMPN 4 Depok Lilik Mardiningsih di Sleman, Selasa.

Dia mengatakan siswa kelas 7 yang masuk di sekolahnya berasal dari berbagai latar belakang sosial.

"Selain itu nilai siswa kelas 7 ada yang hanya menyentuh angka 18, itu dari keluarga miskin dan secara aturan harus kami fasilitasi," katanya.

SMPN 4 Depok sebelumnya salah satu sekolah unggulan di Sleman, sehingga dengan "input" siswa demikian maka diperlukan perlakuan khusus.

"Perlakuan khusus bukan semata-mata untuk menjaga reputasi sekolah. Namun, agar siswa mampu mengikuti ritme belajar siswa lain. Jadi tidak ada yang tertinggal dan semua punya pengetahuan yang sama," katanya.

Untuk mewujudkan hal tersebut, pihaknya menerapkan "bridging course" (BC) sebelum masuk KBM.

"BC merupakan program matrikulasi untuk meningkatkan kemampuan awal siswa di tingkat SMP pada beberapa mata pelajaran. Materinya empat mata pelajaran untuk UN ditambah IPS," katanya.

Lilik mengatakan para siswa kelas 7 akan diminta untuk mengerjakan tes untuk melihat kemampuan dan kelemahan dari siswa tersebut.

"Jadi kalau ada yang kurang di Matematika maka dikumpulkan dan diberikan materi tambahan," katanya.

Ia mengatakan penerapan BC efektif membantu meningkatkan kompetensi siswa.

"Maka kami juga tidak khawatir adanya zonasi bisa menurunkan kualitas sekolah karena mendapatkan 'input' siswa yang beragam. Dari penerapan tahun-tahun sebelumnya sangat efektif, peringkat sekolah juga justru naik," katanya.

Di SMPN 3 Sleman, pengelola memperlakukan semua siswanya secara sama dan ada perlakuan khusus untuk masing-masing siswa.

"Kelas kami heterogen, tidak ada kelas favorit maupun kelas rendah," kata Kepala SMPN 3 Sleman Murdiwiyono.

Selain itu, di SMPN 3 juga ada perencanaan pembelajaran teman sebaya. Nantinya, dari situ akan dibentuk kelompok yang dibimbing guru asuh.

"Kami juga mengusahakan secara optimal pembelajaran yang 'enjoy learning' dan 'enjoy teaching'," katanya.

Baca juga: Alumni SMA Negeri 2 Wates berikan beasiswa 10 siswa kurang mampu
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar