Lahan pertanian puso akibat kekeringan di Bantul menjadi 225 hektare

id Dinas Pertanian Bantul,lahan puso

Lahan pertanian puso akibat kekeringan di Bantul menjadi 225 hektare

Kepala Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan dan Perikanan Bantul, DIY, Pulung Haryadi (ANTARA/Hery Sidik)

Bantul (ANTARA) - Luas lahan tanaman pertanian yang mengalami gagal panen akibat kekeringan di wilayah Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, bertambah menjadi 225 hektare.

"Lahan pertanian yang puso itu diantaranya ada di wilayah Dlingo seluas 85 hektare, kemudian di Sedayu ada 60an hektare, kalau dijumlah komplit, kurang lebih seluas 225 hektare," kata Kepala Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan dan Perikanan Bantul, Pulung Haryadi di Bantul, Minggu.

Sebelumnya Dinas Pertanian Bantul pada awal Juli lalu, mendapat laporan ada seluas 93 hektare lahan pertanian mengalami puso yang seluruhnya tanaman padi, tetapi dalam perkembangannya atau saat ini lahan yang terdampak kekeringan semakin bertambah hingga 225 hektare.

"Lahan yang puso ada padi, dan ada beberapa (hektare) tanaman palawija, akan tetapi tanaman bawang merah tidak ada," katanya.

Lahan pertanian yang puso itu tersebar di beberapa kecamatan yang memang daerahnya tidak terdapat irigasi teknis. Dia memperkirakan kerugian yang dialami para petani yang sawahnya gagal panen totalnya mencapai ratusan juta rupiah.

Namun demikian, kata dia, tidak ada ganti rugi yang diberikan pemerintah terhadap petani. Karena itu sudah menjadi risiko dalam kegiatan budi daya tanaman yang hasilnya sangat dipengaruhi faktor cuaca, tetapi untuk petani yang sudah mengasuransikan sawahnya bisa mengklaim kerugian.

"Kalau (kerugian) tinggal dihitung dikalikan biaya produksi sebesar Rp5 juta per hektare. Tidak ada ganti rugi, karena yang namanya budidaya tanaman kan (ada risiko), kalau (petani) yang ikut asuransi ya bisa (dapat ganti)," katanya.

Dia menjelaskan, sebagai antisipasi agar lahan pertanian puso karena kekeringan tidak semakin meluas, para petani diimbau untuk sementara tidak menanam padi karena ketersediaan air yang semakin berkurang, namun apabila terpaksa maka beralih ke tanaman palawija.

"Kalau masih memungkinkan ada air dan masih bisa dipompa (bisa tanam padi), kalau tidak memungkinkan ada air ya ditunda, jangan tanam dulu, jadi kalau airnya sedikit tanamannya palawija, banyak alternatif, ada jagung, kedelai dan kacang, jangan padi, kalau padi pasti beresiko," katanya.
Baca juga: Petani Gunung Kidul memanfaatkan padi puso untuk pakan ternak
 
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar