Dinkes sebut angka stunting di Bantul di bawah ambang batas WHO

id Dinkes Bantul,Angka stunting,Angka stunting di Bantul

Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul (Foto ANTARA/Hery Sidik)

Bantul (ANTARA) - Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta menyatakan bahwa angka stunting atau kekerdilan di daerah ini hingga akhir 2018 masih jauh di bawah ambang batas dari yang dikeluarkan Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO.

"Kalau dari jumlah Bantul masih jauh di bawah ambang batas dari WHO, jadi WHO memberi batasan bahwa stunting itu jangan lebih dari 20 persen populasi balita, tapi untuk Bantul sekitar 9,7 persen," kata Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinkes Bantul Anugerah Windyasari di Bantul, Selasa.

Dia mengatakan, di daerah memang tidak mungkin tidak terdapat atau nol persen kasus dengan kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis itu, namun dengan angka kurang dari 10 persen, Bantul angkanya jauh di bawah toleransi WHO.

Namun demikian, kata dia, Dinkes terus berupaya menekan angka stunting di Bantul, sebab dalam Rencana Strategi (Renstra) atau dokumen perencanaan yang berorientasi pada hasil yang ingin dicapai pemerintah daerah target angka stunting menurun.

"Cuma kalau prosentase penurunan saya tidak berani menarget, namun seperti 2017 kita angka 10,4 persen, kemudian pada 2018 di 9,7 persen. Jadi turunnya nol koma sekian persen, jadi bertahap sekitar 0,4 persen, karena intervensi kronis itu harus jangka panjang," katanya.

Namun demikian, kata dia, dalam penanggulangan stunting itu bukan hanya intervensi atau penekanan dari sektor kesehatan, tetapi multi sektoral, sehingga harus didukung oleh banyak pihak baik dari instansi terkait dan pemangku kepentingan lain di Bantul.

"Karena ada tiga penyebab utama stunting itu, yaitu masalah di pola makan, pola asuh pada balita (bayi di bawah lima tahun), kemudian faktor lingkungan. Nah tiga hal ini tidak mungkin diselesaikan kesehatan (Dinkes) sendiri," katanya.

Dia mengatakan, berdasarkan penelitian, dampak intervensi dari sektor kesehatan hanya sebesar 30 persen untuk menurunkan stunting, tetapi dampak di luar sektor kesehatan tersebut justru malah lebih banyak mencapai 70 persen.

"Ini (luar sektor kesehatan) yang disebut intervensi sensitif, sedangkan yang kesehatan itu intervensi spesifik, karena sasarannya spesifik. Sasarannya di seribu hari pertama kehidupan atau sejak ibu hamil sampai balita usia dua tahun," katanya.

Dia mengatakan, intervensi spesifik yang dilakukan di seribu hari pertama itu yaitu dengan pelayanan kesehatan ibu hamil agar kondisinya baik dari kesehatannya maupun dari asupan makanan dari ibu tersebut terkelola dengan baik.

"Kalau ada ibu hamil atau kurang gizi kita berikan makanan tambahan (PMT), yang tidak sehat kita lakukan pelayanan kesehatan, bila perlu kita rujuk," katanya.

Selain itu, kata dia, di setiap puskesmas (pusat kesehatan masyarakat) ada kelas ibu hamil, kunjungan oleh dokter apabila ada ibu hamil beresiko untuk merawat bagaimana supaya hamilnya sehat sampai proses kelahiran.

"Setelah bayi lahir maka kita selalu kampanyekan dan imbau bahwa setiap bayi baru lahir harus diberi IMD (inisiasi menyusui dini), tapi dengan tetap melihat kondisi ibu maupun bayi. Itu selalu kita edukasikan ke ibu," katanya.
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar