Yogyakarta mendeklarasikan gerakan 200 bank sampah sekolah

id bank sampah, sekolah,pengurangan sampah

Peluncuran gerakan 200 bank sampah sekolah dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia di Kota Yogyakarta (Eka Arifa Rusqiyati)

Yogyakarta (ANTARA) - Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta bersama sekolah dari jenjang SD sampai SMA dan SMK di kota tersebut mendeklarasikan gerakan 200 bank sampah sekolah untuk menandai peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia.

Pemerintah Kota Yogyakarta memiliki kebijakan strategis daerah (jaktrasda) untuk pengelolaan dan pengurangan sampah. Targetnya, pengurangan sampah bisa mencapai 30 persen pada 2025.

"Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan memperbanyak bank sampah di sekolah,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta Suyana dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia di Yogyakarta, Selasa.

Sebelumnya, setiap sekolah di Kota Yogyakarta yang berstatus sebagai sekolah adiwiyata sudah memiliki bank sampah. Saat ini, ada sebanyak 85 sekolah yang berstatus sebagai sekolah adiwiyata.

Pengelolaan bank sampah di sekolah dilakukan secara langsung oleh siswa di sekolah tersebut bekerja sama dengan bank sampah wilayah yang ada di sekitar lingkungan sekolah untuk mengambil sampah yang sudah dikumpulkan di sekolah pada waktu-waktu tertentu.

Gerakan bank sampah di sekolah tersebut mengusung slogan “sampahku tanggung jawabku, pilah sampah pasti bisa”.

“Kami pun menyiapkan kebijakan pengurangan sampah plastik di lingkungan Pemerintah Kota Yogyakarta melalui surat edaran (SE). Harapannya SE ini bisa diluncurkan secara resmi oleh kepala daerah disertai dengan penjelasan sehingga seluruh instansi mematuhinya. Jika hanya disampaikan secara tertulis, terkadang tidak dipatuhi,” katanya.

Pengurangan sampah tersebut, lanjut dia, diwujudkan dengan tidak menggunakan minuman kemasan dalam rapat-rapat dinas atau kegiatan lain yang diselenggarakan Pemerintah Kota Yogyakarta. “Kebijakan ini juga tidak bertentangan dengan program Gandeng-Gendong pembelian makanan dari kelompok usaha di masyarakat. Kelompok usaha bisa menyediakan minuman menggunakan tempat minum besar,” katanya.

Suyana menyebut, upaya pengurangan sampah perlu terus didorong karena penilaian Adipura pada tahun ini juga menyertakan kebijakan pengurangan sampah yang sudah diimplementasikan.

“Jika pengelolaan sampah di Kota Yogyakarta bisa mencapai lebih dari 90 persen, maka kita bisa bersaing di liga 1 Adipura. Tetapi jika pengelolaan sampah di TPA Piyungan masih dilakukan seperti sekarang, maka Yogyakarta hanya bisa bersaing di liga 3 Adipura,” katanya yang menyebut penilaian Adipura akan dibagi berdasarkan liga.

Selain pengurangan dan pengelolaan sampah yang terus ditingkatkan, dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia dengan tema utama “beat air polution” tersebut juga ditekankan pentingnya menjaga kualitas udara. “Kualitas udara di Kota Yogyakarta masih baik, berada di bawah ambang batas. Hanya untuk bulan-bulan tertentu saja kualitas udara menurun,” katanya.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Yogyakarta Heroe Poerwadi mengatakan, pengelolaan sampah yang baik menjadi salah satu upaya untuk menjaga kualitas lingkungan.

“Selain di sekolah, bank sampah juga sudah berkembang cukup baik di lingkungan masyarakat. Harapannya, Yogyakarta pun bisa memperoleh penilaian yang baik pada Adipura tahun ini,” katanya.

Pada tahun ini, DLH Kota Yogyakarta juga melakukan penilaian Adipura untuk kedua kalinya ke kecamatan namun belum menggunakan indikator penilaian yang baru.

Dari 14 kecamatan di Kota Yogyakarta, sebanyak 10 kecamatan memiliki nilai lebih dari 72 atau nilai minimal “passing grade” yang ditetapkan untuk memperoleh penghargaan. Pada tahun lalu, jumlah kecamatan dengan nilai lebih dari 72 baru ada sebanyak delapan kecamatan.

Tiga kecamatan dengan nilai tertinggi yaitu Gondomanan, Jetis, dan Tegalrejo.

“Kecamatan dan kelurahan harus terus memperbaiki kualitas lingkungan masing-masing. Tujuannya agar lingkungan menjadi lestari, nyaman dan sehat untuk masyarakat. Ruang terbuka hijau publik juga perlu terus diperbanyak agar memenuhi standar. Saat ini, keberadaan ruang terbuka hijau baru 19 persen, masih harus mengejar 11 persen lagi,” katanya.

Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar