Omzet petani ikan di Sleman menurun akibat kemarau

id Budidaya ikan air tawar,Petani ikan Sleman,Sleman

Omzet petani ikan di Sleman menurun akibat kemarau

Petani ikan di Dusun Warak, Sinduadi, Mlati Kabupaten Sleman. (Foto Antara/ Victorianus Sat Pranyoto)

Sleman (ANTARA) - Omzet beberapa anggota kelompok petani ikan (KPU) di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta mengalami penurunan akibat musim kemarau yang mempengaruhi pertumbuhan ikan dan jumlah kolam budi daya.

"Akibat terhambatnya pertumbuhan ikan dan menurunnya jumlah kolam, omzet semakin menurun. Dalam satu hari, biasanya bisa mendapatkan untung hingga Rp3 juta. Saat ini hanya sekitar Rp500 ribu hingga Rp600 ribu untuk ikan konsumsi dan bibit," kata salah seorang anggota Kelompok Petani Ikan (KPI) Mina Sayur, Warak Lor, Sumberadi, Mlati, Sleman, Sarjiyanto di Sleman, Selasa.

Menurut dia, selain menurunnya pasokan air, suplai oksigen pada air juga minim, sehingga risiko ikan mati menjadi besar.

"Kalau kemarau seperti ini sangat berpengaruh terhadap budi daya ikan air tawar. Selain pasokan air yang berkurang, suhu air juga menjadi dingin. Akibatnya, nafsu makan ikan menjadi berkurang. Makan sulit, jadi ikan ini tidak cepat besar," katanya.

Ia mengatakan saat kemarau untuk panen ikan juga mengalami kemunduran jadwal. Jika biasanya dalam empat bulan ikan jenis nila konsumsi bisa dipanen, saat kemarau baru pada usia lima bulan bisa dipanen.

"Kemudian dari sekitar 50 kolam yang ada sudah lebih dari 10 kolam yang tidak ditaburi benih ikan. Dan dibiarkan kosong. Jenis ikannya pun juga hanya nila dan bawal. Yang mudah perawatan dan menjualnya, setiap malam juga saya cek untuk memastikan airnya mencukupi," katanya.

Anggota KPI Mina Ngremboko, Bikesan, Sindumartani, Ngemplak, Panggih (40) mengatakan pada musim kemarau ini dari biasanya 15 kolam ikan baik untuk pembenihan atau konsumsi, saat ini tersisa 13 kolam saja.

"Dan tidak menutup kemungkinan hingga akhir musim kemarau nanti tinggal tersisa 5-7 kolam saja. Mulai terasa berkurangnya debit air itu sejak April kemarin. Kalau dipaksakan tetap produksi, justru akan rugi," katanya.

Menurut dia, berkurangnya debit air otomatis akan memengaruhi produksi larva. Maka untuk pembenihan juga otomatis terkena dampak.

"Untuk mengantisipasi kerugian, kami memilih mengurangi tingkat kepadatan ikan. Biasanya untuk kolam ikan berukuran 700 meter persegi bisa diisi hingga 70 ribu ekor ikan. Saat ini hanya diisi 40-50 ribu ekor saja. Kalau dipaksakan diisi dengan jumlah yang sama padahal airnya kurang, ikan menjadi mudah mati. Karena kekurangan oksigen," katanya.

Kepala Bidang Perikanan Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (DP3) Kabupaten Sleman Sri Purwaningsih mengatakan di Sleman terdapat 637 Kelompok Pembudidaya Ikan (KPI). Dengan total luas lahan kolam 1.130 hektar dan 108 hektare luas lahan minapadi.

"Produksi biasanya memang paling banyak waktu musim hujan, waktu musim kemarau tetap ada, tapi tidak banyak," katanya.

Ia mengatakan salah satu upaya untuk meningkatkan produksi ikan saat kemarau, khususnya ikan nila, yakni melalui Sistem Budidaya Ikan Nila dengan Sentuhan Teknologi Kincir Air (Sibudidikucir). Saat ini sudah banyak pembudidaya ikan nila yang mengadopsi sistem tersebut.

"Apalagi pada musim kemarau yang debit air itu tergolong kecil, teknologi Sibudidikucir dapat meningkatkan oksigen di dalam air. Aliran air kecil aja bisa," katanya.

Purwaningsih mengatakan pihaknya juga memberikan pendampingan kepada para kelompok pembudidaya ikan. Mulai dari hulu sampai hilir, dari proses pembenihan, pembesaran, pengolahan, sampai ke pemasaran.

"Seperti adanya pasar ikan itu untuk membantu pemasaran, karena kalau hanya budi daya namun tidak mampu untuk menjual ya sama saja," katanya.

Baca juga: DKP Kulon Progo mendorong pembudi daya ikan menerapkan "Bule Kolbu"
 
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar