Rektor: pemikiran profesor diperlukan untuk kemajuan negara

id uin suka,islam,rektor

Rektor: pemikiran profesor diperlukan untuk kemajuan negara

Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Prof Yudian Wahyudi PhD (Foto Humas UIN Sunan Kalijaga)

Yogyakarta (ANTARA) - Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta Prof KH Yudian Wahyudi PhD mengatakan pemikiran seorang profesor, meski telah berusia lanjut, masih diperlukan untuk kemajuan dan kebaikan negara.

"Dalam perjalanan hidupnya, setiap profesor terus melakukan kontemplasi spiritualitas dan keilmuan. Secara fisik memang semakin lemah, tetapi spiritualitas dan keilmuannya akan semakin matang," kata Yudian dalam rilis yang diterima di Yogyakarta, Selasa.

Dalam bedah buku "Rekonstruksi Peradaban Islam Perspektif Prof Yudian Wahyudi" karya TGS Prof KH Saidurrahman dan Dr Azhari Akmal Tarigan di UIN Sunan Kalijaga, Senin, ia mengatakan semakin tua seorang profesor akan semakin diperlukan oleh negara untuk menjadi negara besar.

Sebagai profesor yang sudah senior, Yudian sudah sampai Kanada selama enam tahun, di Harvard tiga tahun, menjadi Doktor selama 32 tahun, telah menulis 53 buku yang berasal dari Arab, Inggris, dan Prancis, yang telah diterbitkan di Oxford, serta menjadi profesor di Amerika Serikat. 

Yudian mengaku terus melakukan pencarian akademik sampai terlahir pemikiran yang orisinil darinya. Tentu saja ini juga yang dilakukan oleh setiap cendekiawan atau ilmuwan hingga mencapai gelar profesor, dan berlanjut dalam perjalanan karir sebagai profesor.
  
Menurut Yudian, dalam pengembaraan akademiknya, dia baru melahirkan pemikiran orisinil pada usianya yang telah matang. Beberapa karya orisinilnya di antaranya "Makna Teologi dan Ekonomi dari Perintah Shalat", yang menurut dia selain bermakna membersihkan hati dan komunikasi vertikal dengan Sang Khaliq, shalat didahului dengan berwudlu.  

Hal ini mengandung esensi ekonomi perintah kepada umat Muslim untuk mendekat kepada pusat kekuasaan dan sumber penghidupan yakni air. Esensi Isra Miraj yang membawa Rasulullah Muhammad SAW ke langit. Melalui Rasulullah, Allah SWT memerintahkan umat Muslim untuk bersujud melakukan shalat lima waktu.

"Melalui perintah bersujud itu ada makna dunia yang tersirat agar umat Muslim mencintai tanah air," katanya.

Karya lainnya adalah "Makna Khalifah dalam Al Quran, yang menurut Yudian bukan didasarkan pada agama tetapi "asma" dan ilmu. 

Allah SWT mengajarkan kepada Adam dan keturunannya mengenai "asma-asma" Allah melalui perintah Iqra, agar manusia berlomba mempelajari ilmu pengetahuan untuk memakmurkan dunia.

Dengan penguasaan "asma-asma" Allah dan ilmu pengetahuan, manusia berkompetisi untuk menjadi pemimpin atau khalifah, dengan tanggung jawabnya untuk menjaga dan memakmurkan alam semesta dan seisinya. 

"Semua itu berdasar pada keyakinan tauhid agar segala karya yang dikuasai umat Muslim membawa kebahagiaan dunia dan akhirat," kata Yudian.

Wakil Rektor bidang Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan UIN Sunan Kalijaga Dr Phil Sahiron mengatakan apabila ingin menguasai dunia, kuasai ilmu pengetahuan dan teknologi.

"Buku itu mengajak umat Muslim untuk memaknai Al Quran dan Hadis dengan ajaran Islam-nya melalui perspektif baru, agar umat Muslim bisa memenangi kompetisi global menjadi khalifah atau pemimpin di semua bidang," katanya.

Penulis buku, Dr Azhari Akmal Tarigan mengatakan berbagai pemikiran Prof Yudian Wahyudi yang ditulisnya ini berbicara mengenai Islam moderat dan progresif di kampus.

Menurut Azhari, Prof Yudian dalam pemikirannya menyatakan masalah ketertinggalan umat Muslim saat ini karena salah membaca agama. Umat keliru dalam menangkap pesan Al Quran.

"Akibatnya, sebagai pedoman, Al Quran belum dapat difungsikan secara optimal. Padahal, Al Quran adalah penjelasan yang berisikan pesan dari Tuhan mengenai segala sesuatu, baik pesan eksplisit maupun implisit," kata Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat UIN Sumatera Utara itu.
 
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar