Kasus rasialisme, Presiden Schalke mengundurkan diri

id Schalke,Liga Jerman,Rasialisme

Presiden Schalke Clemens Toennies dibebas tugaskan selama tiga bulan karena komentar racialisme.(REUTERS/Wolfgang Rattay)

Jakarta (ANTARA) - Presiden Schalke Clemens Toennies telah mengundurkan diri untuk tiga bulan menyusul sejumlah tuduhan rasialisme, menurut laporan Sky Sports pada Rabu (7/8).

Toennies mengatakan dalam konferensi pers pekan lalu bahwa lebih banyak pembangkit listrik harus dibangun di Afrika dibandingkan meningkatkan pajak untuk melindungi lingkungan.

"Dengan begitu orang-orang Afrika akan berhenti menebang pohon dan beranak pinak ketika hari gelap," tambah pria berusia 63 tahun itu.

Namun, klub Jerman itu mengatakan klaim rasialisme tersebut "tidak berdasar," meskipun ada sejumlah seruan agar Toennies mengundurkan diri.

Beberapa mantan pemain Schalke juga tidak ketinggalan mengkritik komentar Toennies. Mantan penyerang Jerman kelahiran Ghana Gerald Asamoah mengatakan bahwa komentar itu membuatnya "tak bisa berkata-kata."

"Komentarnya mengejutkan saya, mengejutkan saya dan melukai saya. Ia menghina saya dan semua orang yang terlibat," tambah pria berusia 40 tahun itu.

Toennies, pemilik perusahaan pengolahan daging itu mengatakan ia ingin "secara eksplisit meminta maaf" dalam pernyataan sebelumnya, sambil menambahkan bahwa ia mendukung nilai-nilai klub "1.000 persen"

"Ini termasuk perang melawan rasialisme, diskriminasi dan pengucilan," tambahnya.

Namun, setelah melakukan pertemuan dengan dewan kehormatan Schalke pada Selasa waktu setempat, Toennies mengakui bahwa ia telah "melanggar" aturan anti-diskriminasi klub.

"Ia sekali lagi menyatakan penyesalannya," kata sebuah pernyataan dari klub Bundesliga, yang menambahkan bahwa Toennies akan kembali bertugas setelah tiga bulan.(sumber Sky Sports)
Pewarta :
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar