Tambakrejo dikukuhkan sebagai Desa Tangguh Bencana

id Wabup Sleman,BPBD Sleman,Sleman,Destana Tambakrejo

Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun mengukuhkan tim Destana Desa Tambakrejo, Kecamatan Tempel. (Foto istimewa)

Kegiatan ini juga bertujuan untuk meningkatkan peran serta warga masyarakat khususnya, kelompok rentan dalam pengelolaan sumber daya dalam rangka mengurangi risiko bencana.
Sleman (ANTARA) - Wakil Bupati Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Muslimatun mengukuhkan Desa Tangguh Bencana (Destana) Desa Tambakrejo, Kecamatan Tempel, di Lapangan Desa Tambakrejo, Jumat.

Pengukuhan Desa Tambakrejo sebagai Desa Tangguh Bencana ini diawali dengan pelaksanaan gladi lapang oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman bersama dengan tim Desa Tangguh Bencana dan sejumlah masyarakat.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman Joko Supriyanto  mengatakan pengukuhan destana serta pelaksanaan gladi lapang tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan kapasitas warga masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bencana.

"Kegiatan ini juga bertujuan untuk meningkatkan peran serta warga masyarakat khususnya, kelompok rentan dalam pengelolaan sumber daya dalam rangka mengurangi risiko bencana," katanya.

Ia mengatakan, kegiatan tersebut juga untuk meningkatkan kerja sama antara para pemangku kepentingan dalam pengurangan risiko bencana (PRB), pihak pemerintah daerah, warga sekolah, sektor swasta, perguruan tinggi, LSM, organisasi masyarakat dan kelompok-kelompok lainnya.

"Dalam kegiatan ini jumlah peserta yang turut andil sebanyak 200 orang yang terdiri dari berbagai unsur. Adapun jumlah Desa Tangguh Bencana yang telah terbentuk saat ini di Kabupaten Sleman berjumlah 50 Desa Tangguh Bencana," katanya.

Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun mengatakan, kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya untuk persiapan dalam menghadapi terjadinya bencana alam di Desa Tambakrejo.

Baca juga: Perempuan disabilitas Sleman diberi pelatihan keterampilan

"Ini juga menjadi langkah dalam menyamakan persepsi dan mematangkan koordinasi antar instansi terkait penanganan bencana," katanya.

Sri Muslimatun juga menjelaskan kepada seluruh peserta yang hadir dan ikut serta dalam kegiatan tersebut bahwa perlu dipahami mengenai kegiatan yang dilaksanakan tersebut bukan dianggap sikap responsif akan tetapi preventif yaitu pengelolaan risiko bencana.

Kecamatan Tempel merupakan wilayah yang memiliki risiko bencana berupa angin kencang dan erupsi Gunung Merapi.

Sri Muslimatun juga mengimbau seluruh peserta dan masyarakat untuk melakukan hal-hal yang bersifat preventif.

"Masyarakat harus memperhatikan pohon-pohon dengan ketinggian lebih dari 25 meter yang berpotensi menjadi risiko bagi keselamatan masyarakat," katanya.

 
Pewarta :
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar