Disbud mengapresiasi warga Seyegan gelar 17-an ala tradisional Jawa

id Disbud Kabupaten Sleman,Upacara 17 an nuansa jawa,Sleman

Disbud mengapresiasi warga Seyegan gelar 17-an ala tradisional Jawa

Acara Peringatan HUT Kemerdekaan ke 74 secara tradisional yang digelar warga Banyuurip, Seyegan, Sleman pada 17 Agustus 2018. (Foto Dok Disbud Kabupaten Sleman)

Sleman (ANTARA) - Dinas Kebudayaan (Disbud) Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta mengapresiasi warga Banyuurip, Margoagung, Kecamatan Seyegan yang secara rutin setiap tahunnya konsisten menggelar Upacara Peringatan HUT RI secara tradisional, termasuk pada tahun ini.

"Kami memberikan apresiasi yang tinggi kepada warga masyarakat Seyegan dan sekitarnya yang telah secara konsisten melakukan upaya pelestarian terhadap budaya Jawa, diantaranya melalui Upacara HUT Kemerdekaan RI," kata Kepala Disbud Kabupaten Sleman Aji Wulantara di Sleman, Selasa.

Menurut dia, hal ini merupakan bukti nyata bahwa warga masyarakat memiliki komitmen yang kuat dan rasa handarbeni yang tinggi terhadap budaya Jawa yang adiluhung.

"Diharapkan kegiatan tersebut juga dapat menjadi referensi dan contoh bagi masyarakat lain di wilayah Kabupaten Sleman untuk senantiasa nguri-uri kebudayaan Jawa melalui berbagai kegiatan," katanya.

Pada tahun ini warga Banyuurip akan melaksanakan Upacara Peringatan HUT RI ke 74 pada Sabtu 17 Agustus 2019 pukul 07.30 WIB yang diawali dengan prosesi pengambilan "Tirto Panggesangan" , kirab bregada prajurit yang diikuti sembilan bregada dan kenduri wilujengan.

Ketua Panitia Priyo Sujono mengatakan acara Peringatan HUT Kemerdekaan ke 74 secara tradisional diawali dengan prosesi pengambilan "Tirto Panggesangan" dari Sumber Gayam sebagai simbol kehidupan dan kemakmuran bagi masyarakat setempat.

"Air yang dimasukkan ke dalam tiga kendi sebagai simbol air kehidupan, air kemakmuran dan air kesejahteraan kemudian diarak keliling Dusun Banyu Urip menuju lokasi upacara yang dikawal sembilan bregada prajurit tradisional," katanya.

Ia mengatakan, sembilan bregada tersebut yaitu Bregada Kyai Ganjur, Bregada Mrapen, Bregada Dadap Serep, Bregada Mbah Bregas, Bregada Gadung Mlati, Bregada Srikandi Margoagung, Bregada Jurugan dan Bregada Kyai Mojo.

"Bagi masyarakat setempat air merupakan berkah yang tak terhingga untuk memenuhi kebutuhan warga dalam bidang pertanian dan kebutuhan sehari-hari," katanya.

Menurut dia, melalui kirab tersebut dimaksudkan sebagai bentuk rasa syukur atas melimpahnya air sehingga masyarakat bisa hidup makmur dan sejahtera.

"Acara kemudian dilanjutkan dengan upacara peringatan HUT ke-74 dengan suasana Jawa mulai bahasa, pakaian hingga musik pengiring upacara juga menggunakan musik tradisional gending-gending Jawa dilanjutkan dengan kenduri wilujengan," katanya

Priyo mengatakan, pelaksanaan upacara HUT Kemerdekaan dengan nuansa Jawa disesuaikan dengan budaya setempat serta untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya sendiri dan untuk menumbuhkan dan menguatkan rasa persatuan dan kesatuan bangsa.
Kirab bregada pada acara Peringatan HUT Kemerdekaan ke 74 secara tradisional yang digelar warga Banyuurip, Seyegan, Sleman pada 17 Agustus 2018. (Foto Dok Disbud Kabupaten Sleman)

 
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar