Realisasi budi daya lele cendol di Yogyakarta mencapai 30 persen

id lele cendol, budi daya,kelurahan

Ilustrasi budi daya lele cendol di kelurahan di Kota Yogyakarta selain lorong sayur untuk ketahanan pangan dan peningkatan ekonomi (Eka Arifa Rusqiyati)

Yogyakarta (ANTARA) - Realisasi budi daya lele cendol hingga saat ini baru mencapai 30 persen atau 800 kolam dari target yang diharapkan yaitu 60 kolam per kelurahan atau sekitar 2.700 kolam di seluruh Kota Yogyakarta.

“Dalam musrenbang, budi daya lele cendol ini diarahkan sebagai program yang dijalankan di seluruh kelurahan selain lorong sayur. Tujuannya untuk ketahanan pangan serta peningkatan ekonomi warga,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta Sugeng Darmanto di Yogyakarta, Sabtu.

Menurut dia, tidak perlu ada keluhan dari kelurahan atau wilayah terkait kendala dalam pelaksanaan budi daya lele cendol karena target 60 kolam per kelurahan sudah disesuaikan dengan kondisi rata-rata kelurahan di seluruh Kota Yogyakarta.

Penetapan jumlah 60 drum tersebut juga disesuaikan dengan masa budi daya lele hingga bisa dipanen yaitu tiap 60 hari sekali sehingga diharapkan masyarakat bisa memanen lele tiap hari dan proses budi daya tetap bisa berlangsung.

Jika kelurahan kesulitan menemukan lahan yang cukup luas untuk budi daya lele cendol dengan buis beton, maka kelurahan dapat memanfaatkan berbagai media lain untuk budi daya, seperti drum plastik besar berwarna biru yang berukuran lebih kecil dibanding buis beton.

“Tidak ada alasan tidak bisa mencapai 60 kolam per kelurahan. Pakai drum plastik biru juga bisa atau bisa disebar tiap rukun tetangga satu drum,” kata Sugeng yang berharap seluruh kelurahan bisa mewujudkan target budi daya lele tersebut.

Saat ini, sejumlah wilayah yang dinilai mampu melakukan budi daya lele cendol dengan cukup baik adalah Tompeyan yang sudah memiliki lebih dari 100 drum serta di Pandeyan dengan memanfaatkan bioflok. “Proses budi daya, panen, hingga pembenihan bisa berjalan dengan baik,” katanya.

Sugeng mengatakan, masyarakat di wilayah juga tidak perlu khawatir jika panen lele melimpah karena pemasaran hasil panen cukup mudah. “Selama ini, tingkat kematian benih yang ditebar sekitar lima persen. Jika dijual pun masih bisa untung,” katanya.

Program budi daya lele cendol di tiap kelurahan tersebut, lanjut Sugeng, dapat dibiayai menggunakan dana kelurahan. “Kebutuhan dananya tidak terlalu besar namun dibutuhkan keberlanjutan agar program ini berjalan dengan baik. Mungkin banyak kelurahan yang memilih memanfaatkan dana untuk program fisik karena bisa diselesaikan dalam sekali kegiatan,” katanya.

Meskipun hingga saat ini realisasi budi daya lele cendol baru mencapai sekitar 30 persen, Sugeng mengatakan, akan terus mendorong kelurahan untuk bisa menjalankan program tersebut termasuk keberadaan lorong sayur.

Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar