Pengolahan sampah mandiri Tegalrejo Yogyakarta diharapkan perbaiki masalah asap

id sampah, pengolahan, pembakaran,tegalrejo, asap

Permasalahan di tempat pembuangan sampah sementara di Kota Yogyakarta yang sempat menumpuk beberapa waktu lalu (Eka Arifa Rusqiyati)

Yogyakarta (ANTARA) - Pengolahan sampah mandiri di Kecamatan Tegalrejo Yogyakarta yang dilakukan dengan cara membakar sampah dengan menggunakan alat semacam tungku dihentikan sementara untuk memperbaiki masalah asap pekat yang ditimbulkan.

“Ada dua unit alat yang masing-masing ditempatkan di Kelurahan Bener dan Karangwaru. Keduanya masih menimbulkan asap tebal sehingga harus diperbaiki. Untuk sementara ini dihentikan dulu sembari diperbaiki,” kata Camat Tegalrejo R Riyanto Tri Noegroho di Yogyakarta, Minggu.

Menurut dia, alat pembakar sampah tersebut sebenarnya disambut baik oleh masyarakat dan masyarakat merasa sangat senang karena sampah rumah tangga yang dihasilkan bisa dibakar melalui alat tersebut menjadi abu.

“Mungkin karena terlalu senang, maka beragam sampah dimasukkan ke alat tersebut. Ada sampah sisa makanan sampai sampah anorganik. Akibatnya, asap yang dihasilkan pun sangat pekat dan dikhawatirkan mengganggu masyarakat,” katanya.

Riyanto mengatakan, akan melakukan semacam modifikasi terhadap alat pembakar sampah tersebut sehingga asap yang dihasilkan tidak terlalu pekat yaitu dengan membelokkan cerobong asap ke air. Setiap alat pembakar sampah memiliki kapasitas membakar sekitar empat meter kubik sampah.

“Masyarakat juga perlu diedukasi untuk pemilahan sampah sehingga sampah yang bisa dimasukkan ke alat pembakar ini hanya sampah anorganik yang benar-benar sudah tidak bisa dimanfaatkan kembali,” katanya yang menyebut setiap alat dibeli dengan harga sekitar Rp170 juta.

Hal senada disampaikan Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Karangwaru Subandono yang menyebut sudah sempat melakukan uji coba dua kali untuk membakar sampah melalui alat pengolah sampah tersebut.

Uji coba pertama dilakukan untuk sekitar empat gerobak sampah dan uji coba kedua dilakukan dengan jumlah sampah yang lebih banyak yaitu 12 gerobak. Sampah yang dibakar juga sama sekali belum dipilah.

“Memang kami sengaja memasukkan beragam sampah untuk mengetahui kemampuan alat dan jika ada kekurangan maka bisa diperbaiki dan disesuaikan dengan kondisi di lingkungan,” katanya.

Pada uji coba pertama dibutuhkan waktu sekitar tiga jam untuk membakar empat gerobak sampah dan uji coba kedua membutuhkan waktu lebih lama.

“Dari uji coba tersebut, asap yang dikeluarkan sangat banyak. Bahkan karet yang ada di alat pembakar juga meleleh. Saat ini masih dihentikan sementara sembari diperbaiki. Akan ada modifikasi agar asap yang dihasilkan tidak terlalu pekat,” katanya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta Suyana menyebut, pengolahan sampah mandiri dengan sistem pembakaran di Tegalrejo belum bisa direplikasi di seluruh kecamatan karena membutuhkan berbagai perbaikan, salah satunya karena asap yang dihasilkan masih cukup banyak.

Pewarta :
Editor: Sutarmi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar