Pemkab Gunung Kidul memasang alat pemantau cuaca

id Pemantua cuaca,Nelayan,BPBD Gunung Kidul

Pemkab Gunung Kidul memasang alat pemantau cuaca

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunung Kidul Edy Basuki. (Foto ANTARA/Sutarmi)

Gunung Kidul (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, memasang alat pemantau cuaca untuk membantu nelayan di wilayah itu mengetahui kondisi cuaca sebelum berencana pergi melaut.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunung Kidul Edy Basuki di Gunung Kidul, Minggu mengatakan pemasangan alat pemantau cuaca tersebut merupakan hasil kerja sama antara Kedeputian Meteorologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pusat dengan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) DIY.

"Pamasangan alat pemantau cuaca ini berguna bagi nelayan untuk mengetahui kondisi cuaca sebelum mereka berencana pergi berlayar," kata Eddy.

Ia mengatakan alat pemantau cuaca ini akan memberikan transformasi data dan informasi perkiraan cuaca atau iklim, khususnya daerah maritim, berupa media digital. Alat pemantau cuaca dipasang di kawasan Pelabuhan Sadeng, Songbanyu, Girisubo.

Pemasangan deteksi pemantau cuaca dilakukan sejak 2018, berupa videotrone, namun display tersebut tidak hidup 24 jam, tapi diatur setiap enam jam sekali.

"Prakiraan cuaca maritim itu mampu memprediksi cuaca hingga enam hari ke depan. Alat tersebut mendeteksi tinggi gelombang, dan kecepatan angin,” katanya.

Seperti diketahui, sekarang kondisi cuaca terbilang ekstrem, sehingga nantinya alat tersebut diharapkan dapat bermanfaat bagi para nelayan sebelum memulai aktivitas di laut.

"Ke depan alat canggih pemantau cuaca ini bisa menjadi media edukasi bagi masyarakat sekitar," katanya.

Sementara itu, seorang nelayan Sunardi mengaku terbantu dengan adanya alat prakiraan cuaca maritim. Berprofesi sebagai pencari rezeki di laut, pihaknya tentu menghendaki informasi terbaru mengenai kondisi cuaca.

Nelayan menggunakan kapal sekoci ukuran 10 GT. Sekali melaut membutuhkan 12 jeriken bahan bakar minyak. Jarak untuk menangkap bisa mencapai 150 mil karena di sekitar Sadeng ikannya sudah habis.

“Sebab tidak hanya satu hari dua hari kami melaut bisa sampai sepuluh hari. Kalau kondisi cuaca tidak bersahabat berbahaya,” kata Sunardi.
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar