148 hektare lahan padi di Sleman puso

id Petani Sleman,Padi puso,Sleman,DP3 Sleman

148 hektare lahan padi  di Sleman puso

Seorang petani di Kecamatan Kalasan, Sleman sedang mengerjakan sawahnya . (Foto Antara/ Victorianus Sat Pranyoto)

Sleman (ANTARA) - Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (DP3) Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta menyebutkan pada musim kemarau tahun ini terdata sudah ada 148 hektar lahan sawah yang puso.

"Lahan padi yang puso tersebut diantaranya di Kecamatan Prambanan. Selain itu, 50 hektare sawah di Kalasan juga terancam puso," kata Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (DP3) Kabupaten Sleman Heru Saptono di Sleman, Senin.

Menurut dia, kerugian petani akibat gagal panen ini diperkirakan mencapai Rp2,9 miliar, dengan asumsi harga gabah kering panen rata-rata Rp4.200 per kilogram.

Kerugian itu harus ditanggung sendiri oleh petani. Karena saat ini belum ada satu pun petani di Sleman yang mengikuti program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP).

"Karena AUTP ini hal baru bagi petani. Pemahaman tentang asuransi di masyarakat juga masih kurang," katanya.

Ia mengatakan, pada dasarnya asuransi sangat dibutuhkan petani. Jika nantinya terjadi insiden yang membuat gagal panen maka pemerintah akan memberi ganti rugi.

"Ganti rugi ini diberikan jika ada gagal panen karena puso, serangan hama termasuk serangan tikus, adanya ganti rugi ini bisa jadi modal petani untuk membeli bibit dan menanam kembali," katanya.

Heru mengatakan, petani hanya diwajibkan untuk membayar premi sebesar Rp36 ribu per hektare per masa tanam. Jumlah tersebut, dinilai cukup meringankan petani. Apalagi ditambah pemerintah pusat juga memberikan subsidi untuk pembayaran premi.

"Kalau petani hanya diminta membayar Rp36 ribu per hektare. Kalau rata-rata punya 1.000 meter persegi maka hanya membayar Rp3.600," katanya.

Ia mengatakan, meskipun sudah diberikan kemudahan, hingga saat ini belum ada petani yang ikut asuransi.

"Kemungkinan disebabkan oleh persyaratan klaim yang baru bisa dicairkan jika kerusakan mencapai 75 persen. Kalau kerusakan di atas 75 persen petani dapat ganti rugi sebesar Rp6 juta. Itu bisa untuk menanam kembali," katanya.

Ia mengatakan, pihaknya terus melakukan edukasi dan sosialisasi untuk mendorong petani agar mau mengajukan asuransi Pun demikian dengan sosialisasi.

"Beberapa waktu lalu kami mengundang pihak penyedia layanan asuransi dan petani. Harapannya petani sadar pentingnya asuransi dan bisa ikut dalam AUTP," katanya.

Salah satu petani di Purwomartani, Kalasasan Wito Sudarmo (74) mengaku enggan untuk mengikuti asuransi karena hanya yang di atas 75 persen saja yang bisa diklaimkan.

"Selama ini yang saya alami, jika ada tanaman yang rusak, kerusakan biasanya tidak sampai 40 persen," katanya.

 
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar