Anggaran distribusi air bersih di Gunung Kidul menipis

id Air bersih,Kekeringan,Gunung Kidul

Warga Ploso Doyong, Desa Ngalang, Kecamatan Gedangsari, Kabupaten Gunung Kidul, menerima bantuan air bersih. (Foto ANTARA/Sutarmi)

Gunung Kidul (ANTARA) - Anggaran distribusi air bersih di Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, sebesar Rp530 juta mulai menipis seiring tingginya jumlah permintaan air bersih dari masyarakat dan seluasnya wilayah kekeringan.

Kepala Pelaksana BPBD Gunung Kidul Edy Basuki di Gunung Kidul, Senin, mengatakan anggaran distribusi air bersih sekitar Rp530 juta untuk 2.000 tangki, kemudian yang sudah terdistribusi 1.560 tangki.

"Alokasi dana distribusi air bersih sebesar Rp530 juta sudah banyak digunakan dan diperkirakan akan habis di akhir bulan ini," kata Edy.

Ia mengaku tidak khawatir karena masih memiliki anggaran cadangan di belanja dana tak terduga. Namun untuk mengakses dana ini, BPBD harus meningkatkan status menjadi darurat kekeringan.

"Kami belum tetapkan karena anggarannya belum habis. Kami masih ada kuota 440 tangki. Setelah habis, kami baru akan memutuskan apakah akan mengeluarkan status tanggap darurat bencana atau tidak," katanya.

Saat ini, kata Edy, bantuan air bersih ke masyarakat tidak hanya mengandalkan bantuan dari pemerintah seperti BPBD maupun dari kecamatan. Namun di dalam pelaksanaan ada juga yang berasal dari masyarakat maupun dari program corporate social responsibility (CSR) miliki perusahaan. Untuk penyaluran dari pihak ketiga sudah mencapai 2.000 tangki.

"Sampai saat ini, sudah banyak yang masuk dan keberadaannya sangat membantu BPBD dalam mengatasi masalah kekeringan. Yang jelas kami berharap agar pemberi bantuan bisa berkoordinasi dengan BPBD agar bantuan dapat tepat sasaran,” katanya.

Salah seorang warga Ploso Doyong, Desa Ngalang, Kecamatan Gedangsari, Adi Sugito mengaku senang dengan adanya bantuan air bersih. Meski sudah ada jaringan instalasi air, namun saat kemarau seringkali macet.

"Bantuan air ini bisa untuk stok saat kemarau karena air dari PDAM sering macet,” katanya.
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar