Pemkab Sleman merehabilitasi irigasi dongkrak produksi pertanian

id Irigasi,Pertanian,Sleman,DP3 Sleman

Pemkab Sleman merehabilitasi irigasi dongkrak produksi pertanian

Seorang petani di Sleman sedang memanen padi di sawahnya. Foto Antara/Victorianus Sat Pranyoto.

Sleman (ANTARA) - Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (DP3) Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta merehabilitasi jaringan irigasi di empat kecamatan untuk mendongkrak produksi pertanian terutama pada musim kemarau.

"Langkah antisipasi kemarau panjang tahun ini, kami telah mempercepat bantuan rehabilitasi irigasi pertanian, baik pompa air maupun rehab jaringan irigasi pertanian," kata Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (DP3) Kabupaten Sleman Rofiq Andriyanto di Sleman, Rabu.



Menurut dia, sejak Mei 2019 sejumlah lahan pertanian di Sleman banyak yang mulai mengalami kekeringan dan kesulitan pasokan air.

"Tahun ini rehabilitasi jaringan irigasi pada ditargetkan untuk menjangkau 600 hektare lahan yang meliputi wilayah Kecamatan Seyegan, Prambanan, Tempel dan Ngaglik," katanya.

Ia mengatakan, empat wilayah tersebut diprioritaskan karena memiliki karakteristik berupa campuran pasir.

"Jaringan irigasi diperkeras dengan semen, sehingga jadi irigasi permanen. Harapannya bisa menyalurkan air dengan debit lebih baik dan lancar," katanya.

Rofiq mengatakan total anggaran yang digunakan untuk rehab jaringan irigasi itu hampir mencapai Rp1 miliar yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).



"Pengelolaan dan perawatan jaringan irigasi selanjutnya diserahkan ke kelompok tani," katanya.

Ia mengatakan, pihaknya memprediksi untuk kemarau tahun ini akan berlangsung lebih lama. Sehingga petani juga diimbau untuk mengganti komoditi yang tidak memerlukan banyak air.

"Sejak Juli sudah kami salurkan bantuan benih jagung untuk 4.300 hektare," katanya.

Kepala Dinas Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Kabupaten Sleman Heru Saptono memperkirakan selain lahan tadah hujan padi gogo, ada sekitar 50 hektare lahan sawah yang terancam kekeringan dan puso memasuki musim kemarau tahun 2019 ini.

"Untuk lahan tadah hujan padi gogo sejauh ini sudah ada 148 hektare lahan yang puso akibat kekeringan. Namun ada juga sekitar 50 hektare lahan sawah yang terancam kekeringan dan puso," katanya.

Menurut dia, untuk lahan tadah hujan yang puso terdapat di kawasan perbukitan Kecamatan Prambanan, sedangkan lahan sawah yang terancam kekeringan berada di Kecamatan Kalasan bagian Utara.



"Permasalahan kekeringan sawah memang petani mengalami kesulitan air. Meskipun di daerah tersebut ada Selokan Mataram yang biasanya menjadi sumber air utama untuk sawah. Namun airnya yang tidak bisa sampai ke lahan. Biasanya itu di sisi utara Selokan Mataram," katanya.

Ia mengatakan kondisi tersebut ternyata sudah berlangsung hampir setiap tahum. Seperti tahun 2018, di daerah Desa Selomartani, Kalasan, lahan pertanian juga mengalami kekeringan. Pihaknya kemudian memberikan bantuan berupa pompa air.

"Di sisi utara Selokan Mataram memang sudah ada sumur bor dalam dari Pemprov DIY, namun belum maksimal," katanya.

Heru mengatakan, selain itu permasalahan lain juga karena para petani salah dalam memprediksi cuaca dan masih menerapkan pola tanam seperti pada 2018, dimana saat itu kendati kemarau masih ada hujan, sementara kemarau tahun ini benar-benar akan kering.

"Tahun kemarin fenomenanya kan kemarau basah, sehingga masih sering turun hujan di musim kemarau, sedangkan tahun ini benar-benar kering," katanya.

Ia mengatakan, meski demikian secara total, lahan puso tahun ini tidak akan berpengaruh terhadap hasil produksi beras di Sleman.

"Sebab, Sleman masih memiliki 18 ribuan hektare lahan padi produktif," katanya.
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar