Wabup Sleman mengukuhkan sentra industri parut tradisional Sendangsari

id Parut,Sentra industri parut Sendangsari,Wabup Sleman,Sleman

Wabup Sleman mengukuhkan sentra industri parut tradisional Sendangsari

Para perajin parut tradisional yang di Desa Sendangsari, Minggir, Sleman yang mayoritas berusia lanjut. Foto Antara/ HO/Humas Sleman

Sleman (ANTARA) - Wakil Bupati Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Muslimatun mengukuhkan Sentra Industri Parut tradisional di Dusun Dalangan, Desa Sendangsari, Kecamatan Minggir, Kamis.

Pengukuhan ini sebagai bentuk penguatan industri yang sudah puluhan tahun digeluti masyarakat setempat agar tetap terjaga keberlangsungannya.

Ketua Sentra Industri Parut Sendangsari Sariyanto mengatakan, permasalahan yang dihadapi sentra industri parut adalah usia para perajin yang sudah berusia lanjut dan kurangnya minat generasi muda untuk meneruskan.

"Saat ini hampir seluruh perajin sudah berusia lanjut, yang muda belum tertarik untuk meneruskan. Mereka belum tahu jika sebenarnya parut kalau ditelateni ada nilai ekonomisnya," katanya.

Menurut dia, memang hasil yang diperoleh dari membuat parut tidak sebesar pekerjaan lain, sehingga sulit untuk meyakinkan generasi muda untuk bergabung. "Saat ini, rata-rata usia perajin sudah di atas 50 tahun. Dari 39 perajin didominasi oleh ibu rumah tangga. Memang untuk sambilan saja," katanya.



Ia mengatakan, kendala lain yang dihadapi yaitu terkait bahan baku. Seperti kayu melinjo yang menjadi bahan baku utama masih harus dipasok dari luar daerah.

"Waktu pengerjaan juga tergolong cukup lama. Satu parut bisa memakan waktu dua jam. Tidak sebanding dengan harga jual yang berkisar Rp10 ribu. Rata-rata satu orang sehari tiga parut. Ada juga yang pernah sepuluh parut sehari," katanya.

Sariyanto mengatakan, pengukuhan sentra ini, menjadi angin segar, karena pemerintah masih peduli dengan industri parut tradisional ini.

"Harapan kami bisa didampingi dan membantu kami agar anak muda bisa melestarikan parut dan mungkin bisa berinovasi," katanya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Sleman Tri Endah Yitnani mengatakan pihaknya tetap optimistis jika industri parut ini bisa berkembang.

"Walau memang di era modern ini memang berat, yang terpenting adalah usahanya," katanya.

Ia mengatakan, peluang tersebut terbuka karena pihaknya melihat saat ini tren barang antik sedang menjalar di masyarakat.

"Parut tradisional justru masuk ke kafe menjadi salah satu instalasi dekorasi ruangan yang menarik. Ini jadi peluang, sehingga kami dorong agar tidak hanya membuat parut saja, tapi ada turunannya seperti talenan dengan berbagai bentuk yang bisa dijadikan pajangan," katanya.

Tri Endah mengatakan, inovasi tersebut bukan hanya demi mempertahankan industri parut tradisional. Lebih dari itu agar ekonomi masyarakat terangkat.

"Jadi parut ini tidak hanya dipandang sebagai usaha sampingan saja. Ini juga upaya untuk memberikan nilai lebih kepada parut," katanya.



Ia mengatakan, pihaknya juga turut memastikan untuk bisa memberdayakan anak muda. Setelah melihat banyak perajin yang sudah lanjut usia.

"Caranya dengan memberikan fasilitasi. Potensinya ada, tapi memang untuk perekonomian agak berat. Anak muda ini nanti kami beri pendampingan agar tidak hanya parut saja, tapi kerajinan lain dengan ada sentuhan seninya," katanya.

Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun mengajak agar membeli produk UKM lokal sebagai salah satu cara untuk memajukan potensi UKM di daerah. "Jadikan produk UKM daerah itu menjadi tuan rumah," katanya.

Sri Muslimatun menyadari jika banyak parut modern yang beredar luas di pasaran. Namun dia optimis dengan keberadaan parut tradisional. "Karena setiap rumah pasti masih ada parut," katanya.

 
Pewarta :
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar