Pemkab Gunung Kidul memberi pelatihan pengolahan aloevera

id pengolahan aloevera,Gunung Kidul

Pemkab Gunung Kidul memberi pelatihan pengolahan aloevera

Masyarakat di Desa Katongan, Kecamatan Nglipar, Kabupaten Gunung Kidul melakukan budi daya aloevera. Kegiatan masyarakat ini diharapkan menjadi destinasi agrowisata baru di Gunung Kidul, ANTARA/Sutarmi.

Kulon Progo (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, memberikan pelatihan pengolahan tanaman aloevera atau lidah buaya kepada masyarakat Desa Katongan, Kecamatan Nglipar.

Wakil Bupati Gunung Kidul Immawan Wahyudi di Gunung Kidul, Kamis, mengharapkan Desa Katongan, Kecamatan Nglipar sebagai pusat budi daya dan pengembangan produk aloevera menjadi destinasi wisata baru bagi masyarakat yang berkunjung ke daerah tersebut.

"Semoga menjadi destinasi agrowisata di Gunung Kidul, dan menjadi inspirasi desa lain memanfaatkan lahan pekarangan untuk budi daya aloevera," harap Immawan.

Masyarakat di Desa Katongan, Kecamatan Nglipar merupakan penghasil produk minuman khas berbahan baku dari aloevera. Dengan adanya budi daya dan pengembangan produk aloevera diharapkan menjadi destinasi wisata baru.



Ia juga mengapresiasi kerja sama Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) aloevera yang terletak di Katongan dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Sehingga dari kerjasama tersebut dapat dihasilkan produk yang lebih tahan lama.

"Dengan adanya kerjasama ini UMKM bekerja tidak dalam tekanan yang tinggi," katanya.

Sementara itu, pemilik usaha pengelolaan minuman aloevera, Alan Evendi mengatakan pada awal membuat usaha, pihaknya terkendala dengan pengawetan produknya.

Kemudian, LIPI melakukan riset selama satu tahun untuk bagaimana cara mengawetkan minuman aloevera dan beberapa hari lalu sudah ditemukan.



"Pada hari ini dilakukan pelatihan bagaimana cara mengawetkan minuman aloevera," katanya.

Setelah berhasil mengawetkan minuman aloevera, lanjut Alan, dirinya mencoba memberdayakan masyarakat sekitar dengan cara menanam aloevera di pekarangan-pekarangan rumah warga sekitar memanfaatkan lahan yang tidak digunakan. Sehingga tidak mengganggu masyarakat yang menanam palawija di lahan pertanian milik warga sekitarnya.

"Jumlah produksi sebelum adanya pengawetan 100-300 cup sekarang setelah adanya pengawetan targetnya sehari seribu cup," katanya.
 
Pewarta :
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar