Iran menyayangkan sanksi baru AS terhadap akses rakyat Iran ke makanan-obat

id Menlu Iran,Sanksi baru AS,Bidik makanan-obat

Iran menyayangkan sanksi baru AS terhadap akses rakyat Iran ke makanan-obat

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif. (IRNA - Iran)

Dubai, Uni Emira Arab (ANTARA) - Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif pada Sabtu mencela sanksi baru Amerika Serikat terhadap bank sentralnya sebagai upaya untuk membuat rakyat biasa Iran tak memperoleh akses ke makanan dan obat.

Menlu Zarif mengatakan tindakan itu adalah tanda mengenai keputusasaan AS.

Amerika Serikat pada Jumat (20/9) memberlakukan babak baru sanksi atas Iran, sebagian ditujukan kepada bank sentralnya dan dana kedaulatan, setelah serangan terhadap instalasi minyak di Arab Saudi, yang para pejabat Riyadh dan AS katakan dilakukan oleh Iran.



Iran membantah terlibat dalam serangan tersebut, yang mulanya memangkas sampai separuh produksi minyak Arab Saudi. Tanggung-jawab diklaim oleh milisi Syiah Yaman, Al-Houthi, kelompok yang bersekutu dengan Iran dan memerangi aliansi militer pimpinan Arab Saudi dalam perang saudara di Yaman.

"Ini adalah tanda mengenai keputusasaan AS ... Ketika mereka berulangkali menjatuhkan sanksi atas lembaga yang sama, ini berarti upaya mereka untuk menaklukkan rakyat Iran dengan 'tekanan maksimum' telah gagal," kata Zarif kepada wartawan dalam pernyataan yang ditayangkan oleh stasiun televisi negara.



"Tapi ini berbahaya dan tak bisa diterima sebagai upaya untuk menghalangi ...akses rakyat Iran ke makanan dan obat," kata Zarif, sebagaimana dikutip Reuters --yang dipantau Antara di Jakarta, Sabtu. Ia berbicara setelah tiba di New York untuk pertemuan tahunan Sidang Majelis Umum PBB pekan depan.

Sementara itu, beberapa laporan yang belum dikonfirmasi di media sosial mengatakan sejumlah jejaring Iran --termasuk milik sebagian perusahaan petrokimia-- menghadapi serangan maya. Belum ada komentar resmi, dan semua jejaring perusahaan minyak utama negeri tersebut, NIOC, tampak berfungsi secara normal. Warga mengatakan akses Internet mereka tidak terpengaruh.

Sanksi baru ditujukan ke Bank Sentral Iran, yang sudah menghadapi sanksi lain AS, Dana Pembangunan Nasional Iran, dana kesejahteraan kedaulatan negeri itu, dan satu perusahaan Iran yang dikatakan para pejabat AS digunakan untuk menyembunyikan pengiriman keuangan buat belanja militer Iran.

Zarif mengatakan ia akan bertemu pada Rabu dengan menteri luar negeri sisa penandatangan kesepakatan nuklir 2015, yang disepakati dengan Inggris, Prancis, Jerman, China dan Rusia serta Amerika Serikat.



"Sebagaimana telah kami katakan sebelumnya, Amerika Serikat hanya dapat hadir jika negara itu kembali (ke kesepakatan nuklir) ... dan mengakhiri perang ekonominya melawan Iran," kata Zarif.

Amerika Serikat keluar dari kesepakatan tersebut tahun lalu dan memberlakukan kembali sanksi sepihak atas Iran.

"Saya berharap pemerintah AS menyadari bahwa mereka tidak lagi menjadi satu-satunya adidaya ekonomi di dunia dan ada banyak negara yang menginginkan keuntungan dari pasar Iran," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Abbas Mousavi, kata media negara.

Sumber: Reuters
Pewarta :
Editor: Sutarmi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar